Example 728x250
Hukum & Kriminal

100 Hari Perang AS-Israel Vs Iran: Iran Masih Mencatat kemenangan

6
×

100 Hari Perang AS-Israel Vs Iran: Iran Masih Mencatat kemenangan

Sebarkan artikel ini

100 Hari Perang AS-Israel Vs Iran: Iran Masih Mencatat kemenangan

Seratus hari sejak perang Iran pecah pada akhir Februari lalu, belum ada pemenang mutlak yang dapat dinyatakan keluar sebagai penguasa konflik.

Namun, perkembangan selama lebih dari tiga bulan terakhir telah menghasilkan sejumlah pihak yang dinilai memperoleh keuntungan strategis, sementara pihak lain justru menanggung kerugian besar yang jauh melampaui perkiraan awal sebelum perang dimulai.

Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari dan menyebut perang itu akan berakhir dengan cepat, banyak pihak memperkirakan pemerintahan Teheran akan runtuh atau setidaknya mengalami pelemahan fatal.

Kenyataannya, setelah 100 hari pertempuran, peta kekuatan justru berkembang jauh lebih kompleks.

Setidaknya perang telah menyebabkan hingga 2.211 orang tewas, lebih dari 22.000 terluka, dan sedikitnya 3,9 juta orang mengungsi, meski berbagai perkiraan masih berbeda-beda.

Dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan, konflik tidak hanya melibatkan Iran dan Israel. Perang meluas ke Lebanon, mengguncang pasar energi global, memicu serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk, sekaligus menguji pengaruh AS di Timur Tengah serta efektivitas diplomasi internasional.

Pemenang Sementara
Pemerintah Iran
Salah satu pihak yang dinilai keluar sebagai “pemenang sementara” adalah pemerintah Iran sendiri.

Gelombang awal serangan menghancurkan sistem pertahanan udara Iran, peluncur rudal, aset angkatan laut, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Keberhasilan awal itu sempat mendorong Trump mengeluarkan berbagai pernyataan yang menggambarkan rezim Iran berada di ambang keruntuhan.

Namun hingga hari ke-100 perang, pemerintahan Iran masih berdiri.

Memang, Iran mengalami kerusakan infrastruktur besar dan tekanan ekonomi yang makin berat. Serangan AS dan Israel memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan sebelumnya.

Situasi makin sulit setelah Washington memberlakukan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April, sehingga ekspor energi Iran anjlok.

Meski demikian, tujuan utama untuk menjatuhkan pemerintahan tidak tercapai.

Pemerintahan Trump bahkan mulai mengurangi retorika yang sebelumnya mendorong rakyat Iran menggulingkan pemerintahannya sendiri.

Fokus Washington kini lebih diarahkan pada upaya menghentikan kemampuan Iran mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran juga berhasil memberikan biaya ekonomi dan militer yang besar kepada lawan-lawannya.

Teheran mampu menimbulkan kerusakan terhadap pangkalan militer AS dan sistem pertahanan rudal di kawasan. Iran juga memaksa Israel, AS, dan negara-negara Teluk menggunakan persediaan amunisi ofensif maupun defensif yang sulit digantikan dengan cepat.

Selain itu, Iran secara efektif berhasil menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan hidrokarbon dunia.

Beijing membeli sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran. Status tersebut membuat China menjadi mitra dagang paling penting bagi Republik Islam tersebut.

Posisi ini memberikan bobot lebih besar terhadap seruan Presiden China Xi Jinping kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dibandingkan tekanan yang datang dari Trump.

Ketika fasilitas-fasilitas energi di kawasan Teluk terus menghadapi ancaman serangan Iran, posisi AS sebagai pelindung utama Timur Tengah mulai dipertanyakan.

Kondisi ini membuka peluang bagi China untuk memperluas pengaruhnya dalam membentuk tatanan regional baru.

Allen Carlson, pakar kebijakan luar negeri China dari Cornell University, menilai Xi berhasil memanfaatkan momentum geopolitik tersebut.

“Dalam hal citra selama tiga minggu terakhir, Xi mampu menampilkan dirinya sebagai penentu arah di panggung dunia,” katanya kepada Newsweek.

“Xi dan China berada dalam posisi yang lebih kuat, terutama ketika hal itu secara implisit dibandingkan dengan ketidakkonsistenan strategis pendekatan Washington terhadap dunia saat ini.”

Meski demikian, Carlson mengingatkan bahwa ekonomi domestik China juga menghadapi tantangan.

Harga daging babi, yang sering digunakan sebagai indikator inflasi dan kepercayaan konsumen di China, justru merosot tajam bulan lalu.

Namun menurutnya, Beijing mampu menyerap guncangan eksternal akibat perang lebih baik dibanding banyak negara lain.

“Xi mungkin bahkan memanfaatkan aspek panggung dunia ini karena persoalan politik dan ekonomi domestik jauh lebih sulit untuk diatasi,” ujarnya. Cnbcindonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *