Example 728x250
Opini

Manusia Senja yang Kembali ke Bangku Kuliah

271
×

Manusia Senja yang Kembali ke Bangku Kuliah

Sebarkan artikel ini

By: Wahyudi El Panggabean 

Pernahkah Anda melihat sebuah pohon besar berusia 60 tahun yang ditebang? Bagi sebagian orang, itu adalah akhir dari riwayat sang pohon. Namun alam sering kali menunjukkan keajaibannya.

Dari tunggul yang tersisa, kerap muncul tunas-tunas hijau yang baru. Melalui jaringan meristem yang tersembunyi, pohon tua itu menolak mati; ia memilih untuk kembali mekar.

Metafora alam ini adalah refleksi sempurna bagi kehidupan manusia yang memasuki masa pensiun. Pensiun sering kali disalahartikan sebagai garis finis, waktu untuk berhenti, atau masa di mana produktivitas telah usai.

Padahal, seperti halnya pohon tua yang ditebang, masa pensiun justru bisa menjadi momentum emas untuk menumbuhkan “tunas baru” dalam hidup—salah satunya dengan kembali ke bangku kuliah.

Secara biologis, anggapan bahwa otak lansia tidak lagi mampu belajar adalah mitos medis yang sudah usang. Ilmu saraf modern membuktikan adanya fenomena neuroplastisitas, yaitu kemampuan sel saraf (neuron) untuk terus membentuk koneksi baru dan beradaptasi, berapapun usia manusia.

Saat seorang pensiunan memutuskan untuk kuliah lagi, otak dipaksa untuk memproses informasi baru, menganalisis teori, dan memecahkan masalah.

Aktivitas mental yang intens ini bertindak seperti “pupuk” bagi jaringan otak.

Kuliah di usia senja secara klinis terbukti mengaktifkan kembali sinapsis yang tertidur, mempertajam daya ingat, dan secara signifikan memperlambat risiko penurunan fungsi kognitif seperti demensia atau Alzheimer. Kuliah adalah cara biologis meremajakan pikiran.

Dari sudut pandang psikologi, transisi dari dunia kerja yang sibuk ke masa pensiun yang sepi sering kali memicu kecemasan atau post-power syndrome.

Kehilangan rutinitas dan peran sosial bisa membuat seseorang merasa tidak lagi berguna.

Di sinilah bangku kuliah hadir sebagai penyelamat kesehatan mental. Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, puncak tertinggi kepuasan manusia adalah aktualisasi diri.

Kembali belajar memberikan tujuan hidup (purpose) yang baru. Interaksi dengan dosen, diskusi dengan mahasiswa muda, dan sensasi menyelesaikan tugas akademis memberikan kepuasan psikologis yang mendalam.

Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri bahwa rambut yang memutih bukanlah tanda pudarnya kapasitas diri.

Semangat untuk terus menumbuhkan tunas intelektual di usia senja ini berakar kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah mutiara hikmah yang sangat populer: “Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” (Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat).

Hadis ini menegaskan bahwa tidak ada istilah “terlambat” atau “terlalu tua” dalam kamus seorang penuntut ilmu.

Kewajiban memperbarui pengetahuan ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ta-Ha ayat 114:

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. Ayat ini memerintahkan manusia untuk selalu meminta tambahan ilmu tanpa memandang batasan usia.

Selama Allah SWT masih memberikan jatah napas, selama itu pula kewajiban belajar melekat. Terlebih lagi, Rasulullah SAW menjanjikan bahwa setiap langkah kaki yang diayunkan untuk menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga (HR. Muslim).

Pohon tua yang memunculkan tunas baru adalah bukti ketangguhan alam ciptaan-Nya.

Sementara manusia senja yang kembali mengenakan jaket almamater dan duduk di ruang kuliah adalah bukti ketangguhan akal, mental, dan iman.

Pensiun bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan babak baru untuk tumbuh lebih rindang dan bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *