Example 728x250
Opini

Kekuatan Abadi Sang Pena: Saat Kata-Kata Meruntuhkan Tirani

17
×

Kekuatan Abadi Sang Pena: Saat Kata-Kata Meruntuhkan Tirani

Sebarkan artikel ini

By: Wahyudi El Panggabean 

Pepatah yang menyatakan “pena lebih kuat daripada pedang” adalah kebenaran sejarah.

Kekuasaan lalim bisa saja membungkam suara, memenjarakan raga, dan menyebarkan ketakutan dengan senjata.

Namun, sebuah goresan pena dan pemikiran yang tertuang dalam tulisan tidak akan pernah bisa dikekang.

Dalam Islam, pena memiliki kedudukan sakral. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, SAW. adalah perintah untuk membaca dan menulis, yang diabadikan dalam Surah Al-Alaq ayat 4:

Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam (pena).”

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang pentingnya menyampaikan kebenaran, bahkan di depan penguasa zalim:

Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud).

Sejarah dunia telah membuktikan bagaimana ketajaman pena mampu menumbangkan tirani yang angkuh. Salah satu contoh paling ikonik adalah Nelson Mandela.

Selama 27 tahun dipenjara oleh rezim apartheid Afrika Selatan, Mandela tidak mengangkat senjata.

Melalui surat-surat, memoar, dan tulisannya yang diselundupkan keluar penjara, ia menyatukan perlawanan rakyat, membuka mata dunia, dan pada akhirnya berhasil meruntuhkan dinding segregasi rasial.

Begitu pula dengan kisah Soekarno, proklamator Indonesia. Saat diasingkan dan dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda, ia tidak tinggal diam.

Pleidoi legendarisnya yang bertajuk “Indonesia Menggugat” menjadi senjata intelektual yang membakar semangat nasionalisme dan pada akhirnya mengantarkan bangsa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.

Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, juga pernah menegaskan bahwa tulisan dan gagasan dapat mengubah arah peradaban:

Pena lebih kuat daripada pedang. Jika saya tahu cara menggunakan pena, saya tidak akan butuh senjata untuk mengubah dunia.”

Ketika kekerasan fisik hanya mampu menghancurkan tubuh, ketajaman pena mampu mengubah kesadaran.

Menggerakkan revolusi, dan menanamkan nilai-nilai keadilan yang abadi bagi generasi penerus bangsa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *