Example 728x250
Opini

Metafora Politik “Londo Ireng”: Jeratan Psiko-Linguistik Presiden Prabowo Menepis Kritik

29
×

Metafora Politik “Londo Ireng”: Jeratan Psiko-Linguistik Presiden Prabowo Menepis Kritik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean 

Diksi “Londo Ireng” kini mendadak viral di ruang publik usai dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato politiknya.

Presiden Prabowo Subianto menggunakan istilah tersebut untuk menyentil oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wartawan, dan pengamat yang dinilai kerap menyebarkan narasi negatif serta menerima pendanaan asing demi melemahkan optimisme bangsa.

Penggunaan istilah historis ini memicu debat panas antara penegakan kedaulatan nasional dan ruang kebebasan berekspresi di Indonesia.

Asal-Usul Londo Ireng

Secara etimologi, frasa ini berasal dari bahasa Jawa. Londo berarti: Belanda atau bangsa kolonial kulit putih. Ireng: berarti hitam.

Secara harfiah, istilah ini bermakna “Belanda Hitam“. Pada abad ke-19, Hindia Belanda merekrut tentara bayaran asal Afrika Barat (seperti Ghana) yang dikenal sebagai Zwarte Hollanders untuk memperkuat militer Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL).

Namun dalam perkembangannya, masyarakat pribumi menggunakan istilah peyoratif ini untuk melabeli sesama bangsa Indonesia (pribumi) yang membelot menjadi antek, mata-mata, atau serdadu sewaan kolonial.

Dahulu, sebutan ini ditujukan khusus bagi para kolaborator lokal dan pengkhianat bangsa yang tega memerangi saudara sendiri demi upah serta fasilitas dari penjajah Belanda.

Konteks Viral Modern: Sindiran terhadap Pengkritik

Dalam pidato pada puncak Hari Lahir ke-28 PKB di JCC, Presiden Prabowo menyatakan bahwa entitas “Londo Ireng” masa kini telah berganti rupa.

Istilah ini dilekatkan kepada elemen jurnalis, pengamat, dan aktivis sipil yang dianggap terus merongrong pemerintah melalui isu-isu negatif yang disetir oleh agenda asing.

Pemerintah melalui Kepala Badan Komunikasi Pemerintah segera meluruskan bahwa sindiran tersebut tidak menyasar profesi pers secara umum.

Melainkan sebuah kiasan politik terhadap oknum yang sengaja menafikan capaian bangsa demi pesanan luar negeri.

Meski demikian, organisasi pers seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai pelabelan ini mendelegitimasi peran kontrol sosial pers yang dilindungi undang-undang.

Analisis Psiko-Linguistik Ucapan Pemimpin

Dari perspektif psikologi bahasa yang kerap diulas oleh tokoh jurnalisme seperti saya  ucapan seorang kepala negara memegang efek resonansi psikologis yang luar biasa kuat terhadap alam bawah sadar kolektif masyarakat.

Metode pembingkaian trauma: Kata “Londo Ireng” sengaja dipilih untuk mengaktifkan kembali memori kolektif bangsa akan pedihnya dikhianati dari dalam.

Secara psikologis, diksi ini memicu sentimen defensif dan heroisme sempit di kalangan pendukung pemerintah.

Efek polarisasi sosial: Pilihan bahasa ini membagi masyarakat ke dalam dua poros ekstrem: kubu “Patriot Merah Putih” (pendukung) melawan kubu “Antek Asing” (pengkritik).

Risiko psikologis terbesar adalah munculnya kecurigaan massal terhadap suara-suara kritis.

Pengikisan rasa aman: Ketika fungsi kontrol sosial dicap sebagai pengkhianatan, jurnalis dan akademisi mengalami tekanan psikologis berupa kecemasan akan persekusi atau penolakan sosial dari publik yang menelan mentah-mentah stigma tersebut.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *