Example 728x250
Opini

Mengapa Manusia Lebih Sering Menderita dalam Imajinasi Ketimbang Kenyataan?

3
×

Mengapa Manusia Lebih Sering Menderita dalam Imajinasi Ketimbang Kenyataan?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada dalam kenyataan.”

Ucapan filsuf Stoik Romawi, Seneca, ini tetap bergema kuat hingga hari ini.

Faktanya, sebagian besar skenario terburuk yang kita khawatirkan tidak pernah terjadi. Kita sering membangun penjara di dalam kepala kita sendiri, lalu memilih menjadi narapidana di dalamnya.

Bagi kita di dunia jurnalisme investigasi, ungkapan Seneca ini terasa sangat nyata. Saat mengusut kasus korupsi besar atau skandal hukum, pikiran kita sering kali mendahului fakta di lapangan.

Sebelum ancaman nyata datang, imajinasi kita sudah membangun skenario buruk. Kita cemas digugat pencemaran nama baik, dikriminalisasi, hingga dibayangi pengintaian oleh orang tak dikenal.

Mengapa kita kerap terjebak dalam dunia khayal yang menyengsarakan ini? Mari kita bedah dari sisi biologis, psikologis, hingga tuntunan spiritual Islam.

Warisan Purba Otak Kita

Secara biologis, kecenderungan memikirkan hal buruk adalah mekanisme bertahan hidup yang usang. Otak manusia memiliki sistem limbik dan amigdala yang berevolusi sejak zaman purba.

Dahulu, otak dirancang untuk selalu waspada terhadap predator demi bertahan hidup. Para neurosaintis menyebut kondisi bawaan ini sebagai negativity bias atau bias negativitas.

Otak kita secara otomatis memproyeksikan skenario terburuk saat menghadapi ketidakpastian. Di dunia modern, ancaman fisik sejenis itu sebenarnya sudah jauh berkurang.

Sayangnya, amigdala tidak bisa membedakan ancaman nyata dengan ancaman imajiner. Takut gagal berkarier atau cemas ditolak lingkungan direspons dengan cara yang sama oleh tubuh kita.

Dalam kerja investigasi, negativity bias ini sering kali terpicu secara ekstrem. Saat jurnalis memegang dokumen kunci kasus hukum yang sensitif, amigdala langsung bekerja lembur membayangkan risiko.

Otak langsung melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin ke dalam tubuh. Dampaknya nyata, kita menderita secara fisik akibat bayangan yang kita ciptakan sendiri sebelum laporan dipublikasikan.

Jebakan Ego dan Distorsi Kognitif

Dari sudut pandang psikologi, manusia terjebak karena adanya distorsi kognitif. Manusia memiliki kebutuhan ego yang sangat besar untuk memegang kendali atas segala situasi.

Ketika menghadapi situasi tidak pasti, pikiran mulai “meramal” masa depan lewat imajinasi. Alih-alih menenangkan, imajinasi ini justru dikuasai oleh ketakutan dan rasa bersalah.

Psikologi modern mengenal istilah rumination atau tindakan merenung secara obsesif. Kita tanpa sadar terus-menerus memutar ulang skenario negatif di dalam kepala kita sendiri.

Penderitaan batin ini diperparah oleh hilangnya kesadaran akan momen saat ini (the present moment). Kita lebih sering hidup di masa lalu atau masa depan yang belum terjadi.

Mari kita lihat contoh nyata dalam liputan investigasi hukum di lapangan. Seorang jurnalis yang sedang mengusut mafia tanah sering kali terjebak dalam jebakan rumination ini.

Mereka mencemaskan bagaimana jika narasumber mendadak berbohong, atau jika digugat menggunakan UU ITE. Kecemasan imajinatif ini menguras energi dan mengubah pikiran menjadi mesin pemroduksi ketakutan.

Pandangan Islam: 

Islam memberikan perhatian mendalam terhadap apa yang terlintas di dalam pikiran manusia. Imajinasi negatif yang berujung penderitaan biasanya bersumber dari bisikan setan (waswas) dan angan-angan kosong (al-amaniy).

Allah SWT telah mengingatkan manusia dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.”

Prasangka buruk (su’udzon) kepada takdir Allah dan masa depan adalah akar penderitaan batin. Islam melarang keras umatnya larut dalam khayalan yang memicu keputusasaan hidup.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah. Sebab, Allah SWT bertindak sesuai dengan bagaimana prasangka hamba-Nya.

Islam melawan khayalan merusak ini melalui konsep tawakal atau berserah diri setelah berusaha. Dalam konteks jurnalisme, tawakal diterapkan setelah kita memverifikasi data secara hukum dan mematuhi kode etik.

Saat seorang Muslim berserah diri, ia memutus rantai imajinasi buruk tentang masa depan. Menyibukkan diri dengan ketakutan risiko yang belum terjadi adalah tipu daya setan untuk melemahkan jiwa jurnalis.

Urgensi Perlindungan Mental Jurnalis

Memahami batasan imajinasi bukan sekadar latihan filosofis, melainkan kebutuhan mendesak untuk perlindungan mental jurnalis. Profesi ini sangat rentan terhadap kelelahan mental (burnout) dan gangguan kecemasan akibat paparan konflik yang konstan.

Ketika imajinasi buruk dibiarkan mendikte langkah, jurnalis akan kehilangan objektivitas dan keberaniannya. Perlindungan psikologis harus dimulai dari kemampuan memisahkan antara ancaman nyata dan ketakutan imajiner.

Perusahaan media dan komunitas pers perlu menyediakan ruang aman bagi kesehatan mental wartawan. Edukasi mengenai manajemen stres dan pemulihan trauma pasca-liputan investigasi yang berat harus menjadi prioritas bersama.

Meruntuhkan Dinding Ketakutan

Penderitaan di dalam imajinasi adalah pilihan tidak sadar yang harus segera kita hentikan. Biologi menjelaskan kecenderungan negatif otak, sedangkan psikologi menunjukkan bagaimana ego memperbesarnya.

Sementara itu, Islam hadir memberikan penawar spiritual untuk menyembuhkan kecemasan tersebut. Kita harus belajar mengenali kapan pikiran mulai membangun skenario palsu yang melumpuhkan langkah.

Senada dengan nasihat Seneca, mari bawa kembali pikiran kita ke realitas objektif. Di dalam ruang redaksi maupun di tengah pusaran kasus hukum yang rumit, bersandarlah pada fakta hari ini.

Hadapi kenyataan yang ada sekarang dan berhentilah berperang dengan bayang-bayang masa depan. Perlindungan mental terbaik seorang jurnalis adalah berdiri tegak di atas kebenaran fakta, bukan bertekuk lutut di bawah bayang-bayang ilusi.

Sebab seperti yang pernah dikatakan oleh penulis legendaris dunia, Mark Twain: “Saya telah melewati banyak hal buruk dalam hidup saya, dan beberapa di antaranya benar-benar terjadi.” Jangan biarkan profesi mulia ini lumpuh oleh hal-hal buruk yang hanya hidup di dalam kepala kita sendiri.***

———-
Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.MT.BNSP.,C.PCT: adalah Direktur Utama Pekanbaru Journalist Center (PJC), sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan kompetensi wartawan terkemuka di Sumatera. Sebagai jurnalis senior dengan pengalaman puluhan tahun, beliau aktif bertindak sebagai instruktur, motivator, dan narasumber penguji jurnalisme. Beliau juga merupakan penulis produktif yang menelurkan belasan buku literatur pers populer, di antaranya adalah buku panduan taktis legendaris berjudul Strategi Wartawan Menembus Narasumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *