Oleh: Wahyudi El Panggabean
Dalam dunia psikologi modern, Albert Ellis dikenal sebagai pelopor Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).
Salah satu kutipannya yang paling kuat dan menampar realitas adalah: “Depresi Anda sebagian besar dibangun oleh Anda. Bukan diberikan kepada Anda. Oleh karena itu, Anda bisa mengubahnya.”
Pernyataan ini sering kali sulit diterima oleh mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mental.
Secara intuitif, kita cenderung merasa bahwa depresi adalah “bencana” yang menimpa kita—sesuatu yang berasal dari luar, seperti kehilangan pekerjaan, perpisahan, atau beban hidup yang berat.
Namun, Ellis menekankan bahwa bukan peristiwa itu sendiri yang memunculkan depresi, melainkan cara kita berpikir dan mengevaluasi peristiwa tersebut.
Depresi “dibangun” ketika seseorang merawat keyakinan irasional. Misalnya, “Saya harus sukses, jika gagal saya tidak berharga,” atau “Keadaan ini mengerikan dan tidak akan pernah membaik.”
Pikiran-pikiran absolut inilah yang berubah menjadi emosi negatif yang mendalam. Kabar baiknya, karena emosi itu dibangun oleh pikiran sendiri, maka manusia memiliki kemampuan untuk membongkar dan membangun kembali sistem keyakinan tersebut.
Perspektif Islam: Tanggung Jawab Diri dan Perubahan Nasib
Pandangan Ellis ini sejatinya selaras dengan prinsip Islam yang menekankan tanggung jawab pribadi atas jiwa (nafs) dan emosi kita. Allah SWT berfirman:
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan—termasuk keluar dari keterpurukan emosional—harus dimulai dari inisiatif individu untuk mengubah sudut pandang dan perilaku mereka sendiri.
Islam tidak menafikan adanya rasa sedih, namun mengajarkan umatnya untuk tidak larut dalam keputusasaan yang dibangun oleh pikiran sendiri.
Mengubah Pikiran, Mengubah Keadaan
Langkah pertama mengubah depresi adalah sadar bahwa pikiran kita seringkali mendistorsi realitas. Saat depresi datang, ajukan pertanyaan:
“Apakah pikiran saya ini fakta, atau hanya interpretasi negatif saya?”
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mengelola emosi dan mengarahkan pikiran ke arah yang lebih baik:
“Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik… Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya…” (HR. Muslim).
Bersabar dalam konteks ini bukan sekadar diam menerima penderitaan, melainkan proaktif mengelola pikiran agar tetap berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah dan mencari solusi.
Kesimpulan
Albert Ellis mengajak kita mengambil alih kemudi kehidupan. Depresi mungkin menakutkan, tetapi ia bukanlah penjara permanen. Dengan mengenali pikiran-pikiran irasional, menantangnya dengan perspektif yang lebih logis, serta berikhtiar memperbaiki mental (mengubah diri sendiri), kita mampu mengubah depresi menjadi kedamaian.









