Example 728x250
Opini

Era AI Mengguncang Jurnalistik: Kode Etik Jangan Dikorbankan Demi Algoritma

27
×

Era AI Mengguncang Jurnalistik: Kode Etik Jangan Dikorbankan Demi Algoritma

Sebarkan artikel ini

Jurnalis mengajarkan fakta. Medsos mengajarkan prasangka.

Jujur, saya terperangah. Empat puluh tahun lebih, saya menekuni dunia jurnalistik, telah menulis 12 buku jurnalistik cetak, mendidik ribuan wartawan dari Sumatera sampai Papua. Saya kira masalah jurnalisme saya, sudah khatam.

Ternyata, era teknologi AI (Artificial Intelligence), membuat semua itu harus ditulis ulang.

Dulu saya ajarkan: turun lapangan, catat manual, verifikasi berlapis. Itu yang membentuk mental baja jurnalis.

Sekarang AI bisa merangkum wawancara 1 jam jadi 3 menit, membedah ribuan data korupsi, bahkan menyodorkan judul yang disukai algoritma Google.

Saya sedang merancang e-book:  “Cara Praktis Jadi Wartawan”. Begitu saya buka kerangkanya, saya terdiam.

Metodenya sudah sangat jauh berbeda. Yang dulu butuh 1 semester, kini bisa 1 minggu. Mengagetkan? Sangat.

Tapi, ada yang lebih mengagetkan lagi: Kode Etik Jurnalistik justru terabaikan di era ini. Hari ini banyak wartawan menulis bukan untuk publik, tapi untuk algoritma.

Mereka sibuk mengejar klik, mengejar trending, mengejar kata kunci. Padahal Kode Etik Jurnalistik itu kompas.

Kode Etik Jurnalistik adalah standar moral dan integritas seorang wartawan sejati. Tanpa itu, kita hanya jadi “pengetik cepat” yang digaji traffic.

AI memang hebat merangkai kata, tapi ia tidak punya rasa takut saat liputan di medan konflik. Uniknya lagi, AI tentu saja tidak bisa dituntut secara hukum ketika beritanya meleset. Alias melanggar hukum

AI tidak paham malu ketika memuat berita yang menghancurkan nama baik orang. Itu semua tetap tanggung jawab manusia, tanggung jawab kita yang bersumpah pada Kode Etik.

Maka saya, yang dulu mengajar pakai spidol, kini belajar lagi lewat AI. Bukan untuk jadi budak teknologi, tapi untuk menaklukkannya.

Karena jurnalis masa depan bukan yang paling cepat mengetik, tapi yang paling taat pada etika sambil mengendalikan mesin.

Jurnalistik sudah jauh berkembang. Tugas kita: pastikan ia berkembang ke arah kebenaran, bukan ke arah sensasi.

*)Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.,MT.BNSP.,C.PCT adalah Seorang Wartawan Senior, Trainer dan Penulis Buku Buku Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *