Teknologi AI (Artificial Intelligence) kini, merangsek ke ruang redaksi. Banyak wartawan terlena. Masalahnya, AI mampu menulis berita dalam hitungan detik. Kecepatan ini luar biasa. Sangat luar biasa.
Tetapi ingat: di balik kecepatan itu, ada ancaman besar. Teknologi AI, nyatanya tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Memercayai AI sepenuhnya, adalah awal kehancuran profesi wartawan. Ngeri!
Padahal, wartawan investigasi menuntut ketajaman mendalam. Ironisnya, AI sama sekali tidak memiliki ini. Teknologi AI bekerja berdasarkan algoritma. AI mengumpulkan data massal dari lautan informasi internet.
Celakanya, data itu kerap bercampur sampah digital. AI tidak bisa membedakan fakta otentik dan hoaks yang viral. Di sinilah letak kelemahan fatalnya.
Justru data “kotor” seperti ini yang disuguhkan kepada wartawan pengguna AI. Bayangkan, jika wartawan tidak memverifikasi data “kotor” itu.
Masalahnya, sebagian wartawan, saat ini, sudah mulai malas menggunakan tugas dan wewenangnya berburu informasi ke lapangan. Sebagian wartawan, semata-mata melakukan copy-paste hasil ketikan AI.
Jujur saja. Tindakan ini berbahaya. Sangat berbahaya. Menyebarkan berita bohong dari AI tanpa verifikasi merupakan bentuk pelanggaran berat terhadap kode etik jurnalistik. Hati hati! Wartawan tidak dibenarkan menggadaikan integritas demi kepraktisan.
Amanah pasal pertama kode etik jurnalistik adalah menyajikan kebenaran fakta. Sedangkan AI tidak mengenali kebohongan. AI justru sering mengalami “halusinasi”—menciptakan kutipan palsu dan data fiktif.
Bayangkan, jika wartawan langsung menelan mentah-mentah informasi seperti ini. Kredibilitas media sebagai institusi wartawan penyebar informasi itu, langsung runtuh.
Pertanyaannya, kenapa prinsip kebohongan AI bertentangan dengan hakikat nurani jurnalis sebagai manusia biasa?
Mari kita ulas dari sisi biologis dan psikologis manusia. Otak manusia memiliki korteks prefrontal. Bagian ini berfungsi untuk mengambil keputusan moral dan memvalidasi kebenaran.
AI tidak punya biologi. AI tidak memiliki hati nurani, empanti, dan intuisi psikologis. Sedangkan seorang Wartawan Investigasi butuh feeling. Wartawan sejati harus merasakan getaran suara narasumber. Secara langsung.
Seorang wartawan sejati mesti membaca tatapan mata yang berbohong. Sebab, yang dilihat secara langsung oleh wartawan menjadi bagian informasi yang mesti di deskripsikannya pada berita yang dia tulis. Sebagai produk jurnalistik original.
Sayangnya, AI hanya membaca teks mati. Makanya, ketergantungan pada AI secara psikologis membuat otak wartawan menjadi tumpul. Wartawan akan kehilangan daya kritis. Wartawan menjadi malas berpikir mandiri.
Dari nilai-nilai Islam, fenomena ini sangat dikritik. Islam mengajarkan prinsip Tabayyun ,(verifikasi). Artinya, meneliti dan mengonfirmasi kebenaran setiap informasi hukumnya: wajib!
Ingat amanah Surah Al-Hujurat ayat 6. Kita dilarang keras menelan informasi dari pihak yang tidak jelas tanpa verifikasi.
Menulis berita dengan copy-paste dari AI tanpa check and recheck adalah pelanggaran nyata terhadap prinsip Tabayyun.
Tentu saja, AI bukanlah sumber yang bisa dimintai pertanggungjawaban di hadapan hukum. Apalagi di hadapan Tuhan. Keadilan dan kebenaran adalah esensi utama dalam Islam. Wartawan, wajib menjaganya.
Wartawan investigasi harus segera bangkit. Bangun total. Teknologi AI hanyalah alat bantu sekunder. Bukan sebagai berhala baru di ruang redaksi.
Tugas utama wartawan: turun ke lapangan. Melakukan reportase. Berburu informasi ke sumber sumber utama. Melakukan verifikasi.
Temui narasumber. Periksa dokumen asli. Verifikasi setiap baris kalimat. Waspadalah terhadap kemudahan semu. Kemudahan yang ditawarkan AI bisa menjadi racun yang membunuh profesi wartawan.
Yang prioritas: pertahankan integritas Anda. Jangan biarkan jemari Anda lumpuh karena terus-menerus menekan tombol salin dan tempel.
Kebenaran fakta tidak ditemukan dalam algoritma mesin. Kebenaran fakta lahir dari integritas dan keringat penelusuran wartawan di dunia nyata.
“Kebenaran tidak akan pernah merugikan sebuah tujuan yang adil.”
— Mahatma Gandhi













