Presiden Prabowo Subianto tidak mendukung Israel secara sepihak, melainkan mendorong solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan keluar konflik di Timur Tengah.
Pernyataan beliau yang sering disalahartikan sebagai “dukungan” sebenarnya adalah tawaran diplomasi bersyarat.
Berikut adalah alasan dan konteks di balik sikap Prabowo terkait Israel:
Pengakuan Bersyarat: Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap mengakui kedaulatan Israel dan membuka hubungan diplomatik hanya jika Israel terlebih dahulu mengakui kemerdekaan penuh Palestina.
Jaminan Keamanan: Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB (September 2025), beliau menekankan bahwa perdamaian sejati hanya bisa tercapai jika keamanan Israel juga dijamin, namun hal ini harus sejalan dengan berakhirnya penderitaan rakyat Palestina.
Misi Perdamaian (Board of Peace): Prabowo menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) bertujuan untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam sistem, bukan untuk bekerja sama dengan militer Israel melawan Hamas.
Posisi Realistis: Pendekatan ini dinilai oleh beberapa pengamat sebagai upaya untuk menjadi mediator yang realistis dan seimbang di panggung internasional demi mempercepat solusi damai.
Sesuai Konstitusi: Meski membuka peluang diplomatik, Prabowo tetap menegaskan bahwa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan dan memprioritaskan bantuan kemanusiaan serta pengiriman pasukan perdamaian di bawah mandat PBB.













