Oleh: Wahyudi El Panggabean
Berhentilah ber-buruk sangka. Pepatah Arab kuno mengingatkan kita tentang batasan mutlak manusia. Kita tidak pernah benar-benar tahu alasan di balik keheningan, senyum, atau air mata orang lain.
Sebagai jurnalis investigasi, kita terlatih memburu fakta empiris. Namun, di hadapan labirin jiwa manusia, kamera dan catatan kita sering kali menemui jalan buntu.
Kita hanya mengetahui apa yang mereka pilih untuk diceritakan. Selebihnya adalah ruang gelap yang tidak tersentuh.
Secara psikologis, manusia adalah ahli topeng terbaik. Senyuman sering kali bukan representasi kebahagiaan, melainkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism).
Dalam psikologi, ini disebut sebagai fasad sosial untuk menyembunyikan luka batin. Keheningan pun bukan berarti kosong, melainkan bentuk penyembuhan batin (coping) terhadap trauma yang terlalu berat untuk dinarasikan.
Secara biologis, tubuh kita bereaksi terhadap tekanan emosional lewat sistem saraf otonom. Air mata yang tumpah dipicu oleh hormon stres seperti kortisol dan hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan otak.
Namun, sains hanya bisa menjelaskan proses kimiawi air mata tersebut. Biologi tidak akan pernah bisa membaca narasi spesifik dari luka yang memicu kelenjar air mata itu bekerja.
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, interaksi antarmanusia selalu menyisakan distorsi. Apa yang tampak di permukaan hanyalah komunikasi nonverbal yang multitafsir.
Komunikasi interpersonal memiliki keterbatasan inheren karena adanya diri privat (private self) yang sengaja dikunci rapat. Kita hanya membaca halaman yang kebetulan terbuka, bukan keseluruhan buku kehidupan mereka.
Dalam perspektif Islam, keterbatasan ini adalah pengingat akan pentingnya husnuzan (berprasangka baik). Sebaliknya, Islam melarang keras perilaku tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain.
Allah SWT menegaskan bahwa manusia hanya diberi ilmu yang sedikit tentang apa yang ada di dalam dada sesamanya. Menghakimi isi hati adalah bentuk kesombongan spiritual karena melampaui batas kodrat kemanusiaan kita.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menilai apa yang tampak secara lahiriah atau zahir. Urusan batin sepenuhnya kita serahkan kepada Sang Pencipta.
Bagi seorang jurnalis, menyadari keterbatasan ini adalah puncak dari integritas moral. Investigasi yang hebat tidak hanya tajam dalam mengungkap fakta, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk menghormati ruang privat yang tak terlihat.
Sebelum kita buru-buru memberi penilaian atau vonis hantam kromo, berilah ruang bagi ketidaktahuan kita. Jurnalisme yang beretika tidak boleh terjebak menghakimi sesama manusia.
Kebijaksanaan tertinggi adalah mengakui sebuah realitas. Ada jutaan doa, ketakutan, dan perjuangan orang lain yang tidak akan pernah terdengar oleh telinga kita.
“Setiap orang yang kau temui sedang berjuang dalam pertempuran yang tidak kau ketahui apa-apa tentangnya. Tetaplah bersikap baik. Selalu.”
— Plato













