Example 728x250
Hukum & Kriminal

Di Era Teknologi AI: Kejujuran & Keberanian Tetap Jadi Benteng Utama Jurnalis

11
×

Di Era Teknologi AI: Kejujuran & Keberanian Tetap Jadi Benteng Utama Jurnalis

Sebarkan artikel ini
  • Di tengah gempuran masif teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian merangsek ke berbagai sektor, profesi wartawan menghadapi tantangan disrupsi yang nyata.

Namun, Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., menegaskan,  dua pilar abadi, yakni kejujuran dan keberanian, akan selalu menjadi modal paling esensial bagi seorang jurnalis untuk meraih kesuksesan.

Hal tersebut disampaikan secara tegas oleh Wahyudi, yang juga dikenal sebagai wartawan senior dan penulis buku-buku jurnalistik, di hadapan sejumlah Pemimpin Redaksi Media Berita.

Pertemuan diskusi strategis yang berlangsung di kediamannya di Pekanbaru, Sabtu (29/6) tersebut menyoroti bagaimana insan pers harus menyikapi perkembangan zaman.

“Dengan keberanian dan kejujuran, Insya Allah seorang wartawan akan meraih kesuksesan dalam profesinya,” ungkap Wahyudi, menekankan pentingnya integritas yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mesin mana pun.

Menurutnya, pergeseran teknologi di era modern ini tidak boleh membuat pelaku media kehilangan arah.

Ia mengibaratkan pesatnya kemajuan teknologi AI saat ini seyogianya hanyalah sebatas instrumen pendukung atau asisten untuk membantu tugas-tugas harian jurnalis.

Teknologi tersebut berfungsi untuk mempermudah operasional peliputan, namun posisinya mutlak tidak akan pernah bisa menggantikan naluri, empati, dan penilaian kritis dari seorang wartawan.

AI itu asisten, bukan penentu utama dalam kerja-kerja jurnalistik,” tambah Wahyudi, menepis kekhawatiran bahwa peran krusial wartawan akan punah tergerus mesin pintar.

Dalam berbagai kesempatan, Wahyudi juga konsisten menggaungkan bahwa karya jurnalistik yang berkualitas tidak hanya bergantung pada kecanggihan perangkat, tetapi bersumber dari kecerdasan, ketaatan pada Kode Etik Jurnalistik, dan integritas moral individu wartawan itu sendiri.

Pada akhirnya, di masa di mana informasi membanjir dengan sangat cepat, lanjutnya keberanian moral untuk melakukan verifikasi data dan kejujuran dalam menyajikan fakta kepada publik adalah identitas yang membedakan jurnalis profesional dari sekadar penyebar konten.

“Sentuhan manusiawi inilah yang menjaga marwah pers sebagai pilar keempat demokrasi agar tidak kehilangan kepercayaan pembacanya,” tegas Master Trainer berlisensi BNSP itu .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *