Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional tanpa ancaman. Ultimatum ini disampaikan pada Sabtu, 21 Maret 2026, melalui platform Truth Social miliknya.
Sayanya, Iran justru menganggap remeh ultimatum Donald itu. Iran, tampaknya tak gentar sedikitpun
Berikut adalah poin-puntain utama dari ultimatum tersebut:
Tenggat Waktu: Iran diberi waktu 48 jam sejak pengumuman tersebut dibuat, yang jatuh pada Senin, 23 Maret 2023, pukul 23.44 GMT (Selasa pukul 06.44 WIB).
Ancaman Militer: Jika syarat tidak dipenuhi, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik di Iran, dimulai dari yang terbesar.
Tujuan: Langkah ini diambil untuk menanggulangi guncangan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak dunia (mencapai US$112 per barel) akibat penutupan jalur strategis tersebut.
Latar Belakang: Ketegangan meningkat setelah perang pecah pada akhir Februari 2026 antara AS-Israel melawan Iran, yang menyebabkan jalur Selat Hormuz — tempat melintasnya 20% konsumsi minyak dunia — hampir terhenti sepenuhnya.
Respon Iran:
Pihak militer Iran menyatakan tidak gentar dan mengancam balik akan menghancurkan seluruh infrastruktur energi serta fasilitas desalinasi (penjernihan air) milik AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah jika pembangkit listrik mereka diserang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa selat tersebut sebenarnya tetap terbuka bagi negara-negara netral (seperti Jepang), namun tertutup bagi kapal dari negara-negara yang terlibat konflik dengan mereka.













