Example 728x250
Opini

Komunikasi Sejati Berawal dari Telinga

12
×

Komunikasi Sejati Berawal dari Telinga

Sebarkan artikel ini

By: Wahyudi El Panggabean

  • Komunikasi sejati berawal dari telinga, bukan sekadar mulut. Menjadi pendengar yang baik adalah fondasi utama dalam memahami orang lain.

Artikel ini akan mengupas seni mendengarkan dalam Islam dan hikmahnya untuk membangun empati

Di era yang serba cepat ini, kita terlalu sibuk belajar berbicara yang baik, merangkai kata agar terdengar persuasif, dan mendominasi percakapan. Kita lupa bahwa hakikat komunikasi justru berawal dari telinga. Mendengarkan dengan saksama adalah kunci utama untuk memahami, membangun empati, dan menciptakan hubungan yang harmonis.

Menjadi pendengar yang baik bukanlah hal yang pasif. Ini adalah bentuk penghargaan tertinggi kepada lawan bicara. Saat kita mendengarkan, kita tidak hanya memproses kata-kata yang diucapkan, tetapi juga menangkap emosi, niat, dan sudut pandang mereka. Sayangnya, banyak orang mendengarkan hanya untuk menyiapkan jawaban (bantahan), bukan untuk memahaminya.

Dalam khazanah Islam, seni mendengarkan sangat dimuliakan. Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok pendengar yang luar biasa. Beliau selalu memberikan perhatian penuh kepada siapa pun yang berbicara kepadanya hingga tuntas, membuat lawan bicara merasa didengar dan dihargai.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an mengenai fungsi penting indra pendengaran yang selalu Allah sebutkan sebelum penglihatan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini adalah pengingat bahwa telinga adalah pintu masuknya ilmu dan informasi yang harus dijaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Segala yang kita dengar akan diproses oleh hati dan dipertanggungjawabkan kelak.

Kapasitas manusia untuk lebih banyak menyerap informasi melalui telinga juga diabadikan dalam sebuah nasihat dan petuah bijak dari Ulama Tabi’in, Atha bin Abi Rabah, yang berkata:

“Diciptakan bagimu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan para tokoh dan filsuf dunia modern. Epictetus, seorang filsuf Yunani, pernah berujar bahwa “Kita memiliki dua telinga dan satu mulut agar kita dapat mendengarkan dua kali lebih banyak daripada berbicara.”

Kutipan ini menegaskan bahwa kebijaksanaan seseorang sering kali diukur dari kesediaannya menyimak, bukan dari kepandaiannya mendominasi percakapan.

Sebagai penutup, mari kita seimbangkan kemampuan berkomunikasi kita. Mulailah menjadi pendengar yang empatik, singkirkan ego saat berdiskusi, dan saring setiap informasi yang masuk melalui telinga kita.

Dengan demikian, komunikasi tidak sekadar menjadi ajang adu argumen, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menebar kebaikan.

Sebagaimana nasihat Rasulullah SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.”

Komunikasi sejati berawal dari telinga, bukan sekadar mulut. Menjadi pendengar yang baik adalah fondasi utama dalam memahami orang lain. Artikel ini akan mengupas seni mendengarkan dalam Islam dan hikmahnya untuk membangun empati

Di era yang serba cepat ini, kita terlalu sibuk belajar berbicara yang baik, merangkai kata agar terdengar persuasif, dan mendominasi percakapan. Kita lupa bahwa hakikat komunikasi justru berawal dari telinga. Mendengarkan dengan saksama adalah kunci utama untuk memahami, membangun empati, dan menciptakan hubungan yang harmonis.

Menjadi pendengar yang baik bukanlah hal yang pasif. Ini adalah bentuk penghargaan tertinggi kepada lawan bicara. Saat kita mendengarkan, kita tidak hanya memproses kata-kata yang diucapkan, tetapi juga menangkap emosi, niat, dan sudut pandang mereka.

Sayangnya, banyak orang mendengarkan hanya untuk menyiapkan jawaban (bantahan), bukan untuk memahaminya.

Dalam khazanah Islam, seni mendengarkan sangat dimuliakan. Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok pendengar yang luar biasa.

Beliau selalu memberikan perhatian penuh kepada siapa pun yang berbicara kepadanya hingga tuntas, membuat lawan bicara merasa didengar dan dihargai.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an mengenai fungsi penting indra pendengaran yang selalu Allah sebutkan sebelum penglihatan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini adalah pengingat bahwa telinga adalah pintu masuknya ilmu dan informasi yang harus dijaga dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Segala yang kita dengar akan diproses oleh hati dan dipertanggungjawabkan kelak.

Kapasitas manusia untuk lebih banyak menyerap informasi melalui telinga juga diabadikan dalam sebuah nasihat dan petuah bijak dari Ulama Tabi’in, Atha bin Abi Rabah, yang berkata:

“Diciptakan bagimu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan para tokoh dan filsuf dunia modern. Epictetus, seorang filsuf Yunani, pernah berujar bahwa “Kita memiliki dua telinga dan satu mulut agar kita dapat mendengarkan dua kali lebih banyak daripada berbicara.”

Kutipan ini menegaskan bahwa kebijaksanaan seseorang sering kali diukur dari kesediaannya menyimak, bukan dari kepandaiannya mendominasi percakapan.

Sebagai penutup, mari kita seimbangkan kemampuan berkomunikasi kita. Mulailah menjadi pendengar yang empatik, singkirkan ego saat berdiskusi, dan saring setiap informasi yang masuk melalui telinga kita.

Dengan demikian, komunikasi tidak sekadar menjadi ajang adu argumen, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menebar kebaikan.

Sebagaimana nasihat Rasulullah SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *