Example 728x250
Opini

Pesan Moral dari Musisi Berusia 101 Tahun

11
×

Pesan Moral dari Musisi Berusia 101 Tahun

Sebarkan artikel ini

By : Wahyudi El Panggabean

Irving Berlin adalah sosok Pemusik Terbesar sepanjang sejarah Amerika. Meninggal di usia 101 tahun mewariskan karya seni abadi berupa ratusan judul lagu.

Di antara jutaan kata dari syair lagu-lagunya yang indah & satir terselip sebait pesan. Pesan menohok dari seorang pria yang pernah hidup lebih seabad di dunia fana ini:

“Setelah Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda tidak menginginkannya lagi,” kata Irving Berlin seraya menyoroti siklus kekosongan manusia akan ambisi.

Dalam Islam, hal ini diakui sebagai tabiat nafsu yang tiada habisnya, kecuali diisi dengan rasa syukur dan sikap qana’ah.

*Siklus Ambisi yang Tak Berujung.*
Pernahkah Anda berjuang keras untuk mendapatkan sesuatu—pekerjaan impian, gelar, atau barang mewah—namun begitu itu tercapai, rasa bahagia itu memudar dalam sekejap?

Seperti ungkapan Komposer legendaris Irving Berlin itu: “Setelah Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda tidak menginginkannya lagi”.

Kalimat ini menangkap realitas psikologis manusia yang sangat mendalam tentang bahaya jebakan ambisi materialistis.

 

Banyak dari kita menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian duniawi. Kita berpikir, “Saya akan benar-benar bahagia jika saya berhasil mencapai target ini.”

Namun, ketika garis akhir tersebut dilewati, kita justru dihadapkan pada pertanyaan, “Lalu apa selanjutnya?”.

Rasa hampa kembali menyergap, mendorong kita untuk mencari target baru yang lebih tinggi. Pada titik ini, kita tidak lagi menikmati apa yang sudah diperjuangkan.

*Islam tentang Hakikat Hawa Nafsu*
Agama Islam telah memberikan peringatan keras mengenai sifat dasar manusia yang selalu merasa kurang terhadap kenikmatan duniawi.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At-Takatsur [102]: 1-2).

Ayat ini dengan jelas menggambarkan bagaimana manusia sering kali terjebak dalam perlombaan mengejar harta dan status.

Hasrat untuk terus mengumpulkan dan memiliki ini membutakan mata hati dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Rasulullah SAW juga telah memperingatkan kita mengenai bahaya sifat serakah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi SAW bersabda:

Seandainya manusia memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia (keserakahannya) kecuali tanah (kematian), serta Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini adalah konfirmasi dari sabda Nabi bahwa nafsu manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang telah diberikan, kecuali jika mereka memiliki kontrol diri.

Lantas, bagaimana cara keluar dari siklus kelelahan emosional ini?

Jawabannya terletak pada konsep qana’ah—sikap merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT—serta memperbanyak rasa syukur.

Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan terus-menerus menambah apa yang kita inginkan, melainkan dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Ketika kita mengubah fokus dari “apa yang belum saya miliki” menjadi “apa yang sudah saya syukuri,” kekosongan batin yang dijelaskan oleh Irving Berlin akan terobati dengan ketenangan jiwa.

Bersyukur bukanlah tanda kelemahan, melainkan kunci dari kehidupan yang damai dan berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *