Example 728x250
Opini

WING’S NOT TO FLY (Sebuah Kajian untuk Jurnalis)

59
×

WING’S NOT TO FLY (Sebuah Kajian untuk Jurnalis)

Sebarkan artikel ini
By: Wahyudi El Panggabean 

BURUNG adalah hewan yang melambangkan: kreativitas, kelincahan & kebebasan.

Sayapnya, dirancang khusus agar menghasilkan daya angkat untuk terbang secara efisien. Membantunya bermanuver, belok arah serta mengatur kecepatan dan ketinggian terbang.

Dengan sayap, seekor burung, dengan sempurna melakukan gliding (meluncur) dan melakukan soaring (terbang tinggi) dengan memanfaatkan arus udara secara gesit dan lincah.

Tetapi, semua aktivitas cekatan dari prosesi terbang itu, dilakukan seekor burung untuk dua dalih: memenuhi kebutuhan hidup dan menghindari ancaman predator (pemangsa).

Lantas, bagaimana jika populasi burung hidup di habitat “zona-nyaman” dan bebas ancaman? Mereka hidup di alam terbuka dengan pasokan makanan stand-bye setiap saat plus bebas ancaman predator? Apakah mereka masih terbang tinggi serta perlu bermanuver di angkasa raya?

Wing’s Not to Fly. Punya sayap, tapi tidak bisa terbang. Itulah keunikan yang dipertontonkan sekitar 5.600 ekor populasi burung mandar pulau (Atlantisia rogersi).

Populasi burung ini_menurut situs mongabay.co.id mendiami sebuah Pulau Inaccessible Island (Pulau Tidak Dapat Diakses). Kawasan sangat terpencil Samudera Atlantik selatan.

Burung mandar ini begitu mungil, beratnya tak sampai seberat telur ayam, dengan bulu coklat, kaki hitam, dan mata merah. Pertanyaannya adalah: Bagaimana jenis ini ada di sana?

Menurut Martin Stervander, Ph.D adalah ahli biologi evolusi dan Peneliti Pasca-Doktoral dari University of Oregon nenek moyang burung ini telah menghuni pulau terpencil sekitar 1,5 juta tahun silam.

Kerabat terdekat burung ini, kata Stervander adalah burung mandar hitam (Laterallus jamaicon) di kawasan Amerika Selatan.

“Sepertinya, burung-burung itu terbang sekitar 2.174 mil dari Amerika Selatan dan kemudian mendarat di Innaccesable Island.

Tapi mungkin yang paling mengejutkan adalah, burung mandar Inaccessible Island kehilangan kemampuannya untuk terbang.

Hal ini disebabkan karena di pulau ini, burung benar-benar tidak perlu terbang. Mereka berada di “zona-nyaman”.

Mereka bisa mendapatkan makanan – ngengat, berry, biji, dan cacing – dengan berjalan di tanah. Pulau ini juga bebas ancaman. Tidak ada mamalia atau predatornya. Jadi tidak ada urgensi untuk terbang menyelamatkan diri.

“Seiring waktu, karena seleksi alam, burung ini tidak mengembangkan mekanisme untuk terbang,” ujar Stervander.

Tragedi disfungsi sistem terbang populasi burung mandar ini, sesungguhnya adalah representasi dekadensi kreativitas serta motivasi berjuang berbagai penyandang profesi saat ini.

Era_semua fasilitas serba tersedia_kini, praktis menenggelamkan sebagian besar pekerja profesi ke area “zona nyaman”. Mereka bekerja di blok bebas tantangan.

Sebagai seorang instruktur jurnalis_ saya lebih kompeten menyandingkan tragedi kemerosotan daya juang ini_dengan fenomena terkini di dunia wartawan.

Tidak ada data valid, jumlah wartawan di Indonesia, saat ini. (Berkisar antara: 150 ribu hingga 250 ribu orang & institusi media sekitar 47 ribu penerbitan).

Data yang pasti dari Dewan Pers justru klaim jumlah wartawan yang sudah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) hingga tahun 2024 mencapai 30 ribu orang.

Jika 10 persen saja dari jumlah wartawan yang sudah kompeten itu menjalankan tugas jurnalistik_sesuai koridor Kode Etik Jurnalistik Indonesia (KEJI) di bawah amanah Undang-Undang Pers No.40 Tahun 1999_diyakini kontribusinya pada masyarakat dan bangsa ini, sangat signifikan.

Sebab, seyogianya, Mereka para wartawan kompeten ini, akan selalu menjunjung tinggi etika dan moral profesinya. Mereka selalu siap menyuplai informasi kebenaran kepada publik serta senantiasa, mengontrol kekuasaan agar tetap di jalur kejujuran.

Sayangnya, harapan itu tidak mewujud. “Zona Nyaman” seperti: suplemen, advertorial, kontrak pemuatan berita seremony dari pemerintah, black-money dari mafia-mafia BBM serta recehan dari rils rutin instansi terkait, adalah suntik bius bagi institusi media berita.

Akibatnya, ujung pena wartawannya pun mengalami “rusting” alias karatan. Karena, jarang digunakan untuk menggores kebenaran.

Riau, menempati posisi teratas dengan ini, sekilas jadi beban Pemda. Tetapi,6 ribu institusi media berita. Jumlah ini, tentu saja minimal berbanding lurus dengan jumlah wartawan media tersebut.

Artinya, dari segi kuantitas, jumlah hakekatnya, jadi beban masyarakat juga. Kondisi ini diperparah para pengelola media yang diduga minim skill jurnalisme. Wing’s Not to Fly. Punya sayap tidak bisa terbang. Mengaku wartawan, “nulis” berita aja ‘gak bisa.

Kondisi ini bisa membuka peluang polemik tak berkesudahan. Toh, bagi saya pribadi apapun profesi yang ditekuni, skill profesi itu mesti dikuasai. Kode etik, adalah rambu-rambu untuk mengawal saat seseorang tengah menjalankan profesinya.

Tantangan dan kebutuhan adalah motivasi yang mendorong seorang Jurnalis untuk terbang tinggi menggunakan skill yang dipunyainya.

Tetapi jika Anda saat ini di “Zona Nyaman”, karena semua fasilitas diperoleh tanpa kreativitas tanpa ancaman, Anda berpeluang kehilangan “sayap” untuk terbang.

Jadilah wartawan “pengemis” yang selalu necis, tanpa marwah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *