Example 728x250
Opini

Ijazah jadi Sarana Debat di Panggung Politik, Mampukah Gibran Bertahan?

81
×

Ijazah jadi Sarana Debat di Panggung Politik, Mampukah Gibran Bertahan?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Oleh: Wahyudi El Panggabean

Kasus ijazah Gibran Rakabuming Raka terus menjadi magnet perdebatan nasional yang tak kunjung padam. Isu ini terus menghiasi media sosial, media massa, hingga pentas formal.

Isu ini tidak lagi sekadar urusan verifikasi dokumen akademis. Isu ini telah bermutasi menjadi sebuah wahana debat yang produktif sekaligus memecah belah publik.

Dari kacamata komunikasi massa, kasus ini adalah contoh nyata dari teori agenda setting. Media massa dan algoritma media sosial sukses mengarahkan apa yang harus dipikirkan oleh publik.

Informasi kini tidak lagi mengalir satu arah karena kedua kubu saling memproduksi narasi secara masif. Akibatnya, debat ini memicu partisipasi publik yang tinggi namun sering kali mengorbankan substansi demi mengejar klik.

Secara psikologis, fenomena ini digerakkan oleh confirmation bias atau bias konfirmasi yang akut. Dua kubu yang berseteru tidak lagi mencari kebenaran objektif di ruang publik.

Mereka hanya berburu pembenaran atas keyakinan awal mereka sendiri. Ketidakpastian informasi ini memicu kecemasan kognitif yang kemudian diluapkan dalam bentuk fanatisme kelompok digital.

Jika dibedah melalui nilai-nilai Al-Qur’an, riuhnya perdebatan ini mencerminkan pengabaian terhadap prinsip tabayyun. Surah Al-Hujurat ayat 6 dengan tegas mengingatkan kaum beriman untuk meneliti kebenaran sebuah berita.

Tanpa adanya klarifikasi, ruang publik digital akan terjebak ke dalam kubangan prasangka buruk. Hal ini sangat dilarang keras sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 12.

Islam juga menawarkan solusi preventif melalui tuntunan Hadis Rasulullah SAW. Beliau bersabda untuk selalu berkata yang baik atau memilih diam.

Ketika jempol lebih cepat menyebarkan asumsi daripada bukti, pesan moral hadis ini menjadi rem darurat. Pesan ini menjaga peradaban lisan dan tulisan dari dosa kebohongan digital.

Dari segi analisis politik, pertanyaan krusialnya adalah apakah Gibran bakal bertahan atau mundur. Desakan mundur terus disuarakan oleh kelompok oposisi demi menjaga etika publik.

Namun, ada pengamat memprediksi Gibran tetap bertahan di kursi wakil presiden. Posisi politiknya dilindungi oleh “tameng” koalisi besar yang lebih memprioritaskan stabilitas transisi kekuasaan.

Terlepas akurat tidaknya prediksi itu. Yang menarik, perdebatan ini juga menyentuh aspek biologis manusia.

Ketika seseorang mempertahankan posisi politiknya, otak mereka melepaskan hormon dopamin saat mendapat dukungan kelompok.

Sebaliknya, serangan dari kubu lawan akan langsung memicu respons fight or flight. Tubuh melepaskan adrenalin dan kortisol yang memengaruhi detak jantung serta tekanan darah secara nyata.

Pada akhirnya, ruang publik kita membutuhkan jeda untuk menjernihkan akal sehat. Kita perlu beralih dari sekadar memenangkan perdebatan menuju pencarian esensi kebenaran.

Terkait pencarian kebenaran di tengah riuh informasi ini, filsuf besar Socrates pernah mengingatkan kita semua:

“Kebenaran sejati hanya ada pada saat kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa.”

Keywords: Ijazah Gibran, Komunikasi Massa, Psikologi Politik, Tabayyun, Pemakzulan Gibran, Koalisi Parlemen, Bias Konfirmasi, Respons Biologis, Forum Jurnalis Investigasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *