Example 728x250
Opini

Mengapa Kita Membenci Apa yang Telah Kita Raih?

30
×

Mengapa Kita Membenci Apa yang Telah Kita Raih?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Saya memulai penelusuran essai ini dari sebuah lirik tua yang ditulis komposer legendaris Amerika Serikat, Irving Berlin:

“After you get what you want, you don’t want it.”

Setelah Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda tidak lagi menginginkannya.

Kutipan itu terasa menusuk. Tetapi, saya menemukan ini sebagai sebuah kebenaran universal yang tragis. Manusia modern terjebak dalam siklus mengejar, meraih, lalu bosan.

Jebakan Siklus Bosan

Secara psikologis, temuan ini mengarah pada satu fenomena: hedonic treadmill (treadmill hedonis). Manusia memiliki titik jenuh kebahagiaan yang statis.

Kita terus berlari mengejar target baru demi kepuasan sesaat. Saat target tercapai, standar kebahagiaan kita langsung bergeser naik.

Pikiran kita dengan cepat menganggap pencapaian itu sebagai hal biasa. Rasa bosan pun datang menyergap.

Manipulasi Hormon Dopamin

Biologi menjelaskan hal ini secara lebih kejam melalui neurosains. Hasil pelacakan pada sistem saraf manusia menunjukkan bahwa otak dikendalikan oleh zat kimia bernama dopamin.

Dopamin sering salah dipahami sebagai molekul kenikmatan. Faktanya, dopamin adalah molekul antisipasi.

Zat ini diproduksi paling tinggi saat kita sedang berjuang mengejar sesuatu. Dopamin tidak diproduksi saat kita berhasil mendapatkannya.

Begitu keinginan tercapai, produksi dopamin langsung merosot tajam. Otak mengalami penurunan stimulasi mendadak.

Akibatnya, arah emosi berbalik menjadi kekosongan atau rasa kecewa.

Kutukan Atlet Elite

Dalam dunia olahraga, fakta empiris ini terlihat sangat jelas di depan mata kita. Ambil contoh sirkuit Formula 1 atau Piala Dunia.

Banyak atlet elite dunia mengalami depresi berat justru setelah memenangkan medali emas atau trofi tertinggi. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya demi satu malam kemenangan.

Namun keesokan paginya, mereka terbangun dengan pertanyaan eksistensial yang hampa: “Lalu, apa lagi sekarang?”

Teori motivasi juga menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik memiliki batas kedaluwarsa yang sangat cepat. Ketika insentif berupa materi atau status berhasil digenggam, daya dorongnya langsung lenyap.

Ilusi Utilitas Menurun

Di panggung ekonomi mikro, kita melihat tren ini memicu kegilaan konsumerisme. Ekonomi perilaku mengenal istilah utility diminishing—penurunan utilitas marjinal.

Kepuasan dari unit pertama barang yang dibeli selalu jauh lebih tinggi daripada unit-unit berikutnya. Seseorang bisa sangat mendambakan gawai atau mobil mewah terbaru.

Mereka rela mencicil atau menabung bertahun-tahun demi barang tersebut. Namun, begitu transaksi selesai dan barang itu digenggam, nilai utilitasnya di mata konsumen langsung merosot.

Candu Validasi Digital

Efek ini diperparah oleh fenomena conspicuous consumption (konsumsi mencolok) dan budaya flexing di media sosial. Di era digital, kita  mengamati manusia tidak lagi membeli barang untuk fungsi dasar.

Manusia membeli barang untuk membeli status dan validasi instan. Media sosial adalah mesin pengganda dopamin artifisial.

Seseorang membeli barang mewah, mengunggahnya (flexing), dan mendapatkan limpahan likes serta pujian. Namun, validasi digital ini memiliki waktu paruh (half-life) yang sangat pendek.

Ketika algoritma bergerak maju dan perhatian netizen beralih, kepuasan dari barang tersebut langsung hilang. Konsumen terjebak dalam lingkaran setan ekonomi.

Mereka dipaksa membeli barang baru yang lebih mahal. Semua itu dilakukan hanya untuk mempertahankan level validasi yang sama di dunia maya.

Kriminologi Hubungan Domestik

Sisi gelap dari kebosanan akut ini membawa penahaman kita  pada dimensi kriminologi yang mengerikan. Mengapa seseorang tega menghabisi pasangannya sendiri setelah rasa bosan melanda?

Kriminologi memandang ini sebagai hilangnya fungsi social bond (ikatan sosial). Fungsi tersebut kini digantikan oleh desensitisasi moral.

Pasangan hidup yang dahulu dikejar setengah mati, kini hanya dianggap sebagai beban. Mereka dianggap sebagai “properti” yang menghalangi pencarian dopamin baru.

Ketika obsesi kepemilikan telah tuntas, rasa bosan bergeser menjadi kebencian mendalam. Kondisi ini memicu kejahatan domestik yang sadis demi membebaskan diri dari kejenuhan.

Adiksi Para Koruptor

Logika kriminal yang sama kami temukan bekerja pada para koruptor. Melalui lensa Rational Choice Theory (Teori Pilihan Rasional), koruptor sebenarnya tidak lagi mencari uang untuk bertahan hidup.

Mereka berbohong, memanipulasi hukum, dan merampok uang negara demi kepuasan sesaat. Semua dilakukan untuk membiayai gaya hidup mewah mereka.

Korupsi akhirnya menjadi sebuah adiksi. Harta yang didapat dari hasil haram dengan cepat kehilangan daya tariknya.

Hal ini memaksa mereka melakukan korupsi yang lebih besar. Mereka memburu sensasi ketegangan dan kekuasaan yang sama.

Syahwat Kekuasaan Politik

Dari sisi politis, paradoks ini menjelma menjadi syahwat kekuasaan yang merusak. Kita  menyaksikan para politisi bertarung habis-habisan dalam pemilu untuk merebut kursi jabatan.

Mereka menjanjikan perubahan dan menumpahkan segala energi demi menang. Namun, begitu kekuasaan absolut berada di tangan, visi idealis itu kerap kali menguap.

Kekuasaan yang telah diraih tidak lagi memicu gairah membangun. Jabatan itu justru melahirkan ketakutan akan kehilangan atau ambisi buta untuk mencari kekuasaan yang lebih besar lagi.

Perspektif Fatamorgana Dunia

Islam memandang fenomena psikobiologis, kriminal, dan ekonomi ini sebagai bukti nyata dari sifat dasar duniawi. Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, ia pasti akan mencari lembah yang ketiga.”

Dalam nilai Islam, nafsu manusia memang didesain tidak akan pernah puas oleh materi duniawi. Dunia hanyalah fatamorgana yang menipu.

Dunia persis seperti algoritma media sosial yang menjebak penggunanya dalam kepalsuan. Solusi utama dari kehampaan ini adalah qana’ah—merasa cukup dengan apa yang ada.

Manusia harus mengalihkan orientasi hidup pada nilai-nilai yang kekal. Kepuasan sejati hanya didapat ketika manusia berhenti mengejar ego dan mulai mengejar kebermaknaan hidup.

Mengejar Ujung Hampa

Manusia ditakdirkan untuk selalu bergerak mencari. Namun, mengaitkan seluruh kebahagiaan pada titik akhir pencapaian adalah sebuah kekeliruan fatal.

Mengejar jumlah likes di layar gawai atau kepemilikan absolut adalah kesalahan yang sama. Kekeliruan ini terus berulang sepanjang sejarah peradaban.

Wajar saja, jika filsuf dunia Arthur Schopenhauer meringkas pusaran hidup manusia dengan sangat tajam:

“Hidup terombang-ambing seperti pendulum, bolak-balik antara rasa sakit karena keinginan yang belum terpenuhi dan rasa bosan setelah keinginan itu tercapai.”***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *