Example 728x250
Opini

Jangan “Gantungkan” Hidupmu pada Penilaian Orang

45
×

Jangan “Gantungkan” Hidupmu pada Penilaian Orang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Bayangkan seseorang yang terus memeriksa ponselnya. Ia menghitung jumlah suka pada unggahannya.

Malamnya, ia memutar ulang percakapan siang hari. Ia cemas. Jangan-jangan candaannya menyinggung orang lain.

Setiap keputusannya disaring lewat satu pertanyaan: “Apa kata orang nanti?” Baju yang dipakai. Karier yang dipilih. Semuanya.

Jiwanya lelah. Hidupnya disetir ketakutan akan penolakan sosial.

Kecemasan ini membuang aset hidup kita yang paling berharga: waktu. Laporan State of Mobile dan Global Digital Reports mengungkap fakta mencengangkan.

Masyarakat Indonesia rata-rata menatap layar gawai lebih dari 6 jam sehari. Khusus menggulir media sosial, durasinya 3 jam 7 menit per hari. Angka itu jauh melampaui rata-rata global.

Ironisnya, sebagian besar menit itu terbuang sia-sia. Kita berburu pengakuan semu.

Kita membuka kunci ponsel puluhan kali. Memeriksa komentar. Melihat siapa yang menonton cerita kita. Memastikan dunia luar menerima kita.

Itu bukan produktivitas kerja. Itu jebakan kecanduan digital demi memuaskan dahaga validasi.

Secara psikologis, perilaku ini berakar pada sociotropy. Yakni ketergantungan ekstrem pada persetujuan orang lain demi menjaga harga diri.

Tipe pencari validasi (people-pleaser) dihantui kecemasan eksistensial. Mereka merasa baru “berharga” jika diakui lingkungan.

Akibatnya, mereka mengembangkan fawning response. Ini mekanisme pertahanan diri akibat trauma. Pemicunya perilaku tunduk demi menghindari konflik.

Autentisitas pun hilang. Perlahan, kesehatan mental rusak. Depresi muncul karena kebutuhan diri sendiri diabaikan.

Secara biologis, fenomena ini melampaui urusan mental. Ada sirkuit saraf otak yang rumit di baliknya.

Amigdala memproses kritik atau penolakan sosial dengan intensitas yang sama seperti ancaman fisik yang mengancam nyawa.

Saat amigdala aktif, ia membajak prefrontal cortex. Padahal bagian itu seharusnya bekerja rasional untuk menenangkan diri.

Ketidakseimbangan ini membuat tubuh terus memproduksi kortisol dan adrenalin. Sistem imun rusak. Usia biologis memendek.

Namun, biologi molekuler juga menyediakan kunci pembebasan. Namanya neuroplastisitas di dalam keheningan.

Pertumbuhan sel saraf baru (neurogenesis) dan penguatan sinapsis terbaik terjadi saat otak bebas dari stimulasi konstan dopamine hit media sosial.

Ketika manusia memilih fokus pada pengembangan diri dalam sunyi, otak mengaktifkan Default Mode Network (DMN). Jaringan ini merangsang kreativitas mendalam dan konsolidasi memori.

Proses biokimia ini bersifat mandiri. Ia bekerja di ruang privat biologis tubuhmu. Ia mutlak tidak membutuhkan sepeser pun validasi dari dunia luar.

Sebagai penawar spiritual, Al-Qur’an menawarkan konsep ikhlas. Ikhlas adalah benteng yang membebaskan jiwa dari belenggu validasi makhluk.

Allah SWT memerintahkan manusia memurnikan orientasi hidup hanya demi mencari keridaan-Nya. Bukan demi pujian manusia yang fana (QS. Al-Bayyinah: 5).

Ketenangan batin sejati tercapai saat fokus kita bergeser. Dari sibuk menyenangkan manusia, menjadi sibuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

“Barangsiapa mencari rida Allah sekalipun manusia murka, Allah akan mencukupinya dari ketergantungan pada manusia,” (Hadis)

Sebaliknya, siapa memburu rida manusia dengan memicu murka Allah, maka Allah akan membiarkannya terlantar di tangan manusia.

Kebebasan hakiki dimulai saat kita memutus rantai ekspektasi dunia. Saat kita mengurangi screen time yang sia-sia. Saat kita bersandar sepenuhnya pada ketetapan-Nya.

“Jangan jelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.” — Ali bin Abi Thalib

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *