Example 728x250
Hukum & Kriminal

Remaja Putus Sekolah Asal Singapura di Balik Perampokan Kripto Terbesar Dunia: Jejak Gelap Malone Lam

25
×

Remaja Putus Sekolah Asal Singapura di Balik Perampokan Kripto Terbesar Dunia: Jejak Gelap Malone Lam

Sebarkan artikel ini

Malone Lam Yu Xuan, seorang pemuda asal Singapura berusia 22 tahun, resmi mengaku bersalah di pengadilan federal Washington D.C., Amerika Serikat, atas perannya sebagai otak sindikat kejahatan siber internasional.

Menggunakan nama samaran daring seperti “Anne Hathaway” dan “$$$”, pria yang sempat putus sekolah di usia remaja ini memimpin jaringan yang berhasil merampok lebih dari 4.100 Bitcoin senilai USD 245 juta (sekitar Rp3,9 triliun) dari seorang investor tunggal di Washington.

Departemen Kehakiman AS (DOJ) mencatat aksi ini sebagai salah satu kasus pencurian mata uang kripto dari korban tunggal terbesar dalam sejarah, sekaligus menjadi preseden pertama penegakan Hukum Anti-Pencucian Uang dan Kejahatan Terorganisir (RICO) yang melibatkan Bitcoin.

Investigasi mendalam mengungkap bahwa jaringan bentukan Lam, yang dikenal sebagai Social Engineering Enterprise, menggunakan modus operandi rekayasa sosial (social engineering) yang sangat canggih.

Bersama komplotannya yang berbasis di berbagai negara bagian AS, Lam meretas basis data untuk membidik investor kaya, lalu mengelabui korban dengan menyamar sebagai tim dukungan teknis resmi dari Google dan bursa kripto Gemini.

Setelah memanipulasi korban agar membagikan akses layar dan kode keamanan, sindikat ini menguras seluruh aset digital korban secara senyap, bahkan dalam beberapa kasus tidak segan melakukan pembobolan rumah fisik demi mencuri hardware wallet milik target.

Uang hasil jarahan tersebut kemudian dicuci melalui platform mikser aset digital untuk membiayai gaya hidup yang sangat mewah dan eksentrik di Miami dan Los Angeles.

Lam dilaporkan menghabiskan hingga USD 500.000 (sekitar Rp7,7 miliar) dalam satu malam di kelab malam, menyewa jet pribadi, serta membeli properti mewah dan armada berisi lebih dari 30 mobil eksotis seperti Porsche, Lamborghini, dan Ferrari.

Petualangan kriminal “Ferris Bueller versi sesat” ini akhirnya runtuh setelah FBI menggerebek rumah sewaannya pada September 2024. Kini, setelah memutuskan mengaku bersalah di bawah dakwaan konspirasi pemerasan RICO, Lam harus merelakan seluruh aset mewahnya disita oleh pemerintah AS dan menghadapi ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *