Example 728x250
Hukum & Kriminal

Menguak Psikologi Keberanian Palsu dan Peran Jurnalis Investigasi

34
×

Menguak Psikologi Keberanian Palsu dan Peran Jurnalis Investigasi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Ketika seekor tikus berani menertawakan kucing, berarti ada lubang persembunyian di  dekatnya.” (Pepatah_Afrika).

Metafora ini sangat relevan untuk menggambarkan fenomena sosial saat ini. Kita sering terkecoh oleh sikap seseorang yang tampak sangat berani, lantang berbicara, bahkan gemar merendahkan orang lain.

Sayangnya, keberanian itu kerap kali bukan berasal dari karakter yang kuat. Sebaliknya, hal itu muncul karena ia merasa memiliki perlindungan, kekuasaan, harta, jabatan, atau kelompok yang akan membelanya ketika masalah datang.

Dari kacamata psikologi, individu yang menggunakan kekuasaan orang lain untuk bertindak berani sering kali mengidap ilusi superioritas atau dikenal dengan istilah basking in reflected glory (BIRG).

Mereka meminjam “kekuatan” eksternal untuk menutupi kerapuhan internal (insecure). Ketika mereka berada di balik bayang-bayang tokoh atau sistem yang kuat, mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) mereka bekerja secara aktif.

Keberanian ini sesungguhnya adalah topeng untuk menutupi rasa rendah diri (inferiority complex). Dengan mendominasi dan merendahkan orang lain, mereka mencoba memvalidasi diri dan membangun citra palsu di mata publik.

Secara biologis, perilaku ini juga sangat erat kaitannya dengan kerja sistem neurobiologis dan hormonal di dalam tubuh manusia.

Ketika seseorang memegang kekuasaan—bahkan jika kekuasaan itu milik orang lain namun ia proksikan untuk kepentingannya—terjadi lonjakan produksi hormon testosteron dan penurunan hormon stres kortisol. Kondisi ini memicu bagian otak seperti amigdala yang mengatur respons rasa takut.

Otak mereka menjadi terbiasa merespons situasi dengan agresi alih-alih empati atau rasionalitas. Kombinasi lonjakan dopamin (hormon penghargaan) dari pujian atau dominasi yang mereka lakukan menciptakan kecanduan biologis.

Inilah yang membuat mereka tidak segan bersikap arogan demi mempertahankan posisi yang memberikan kenyamanan psikologis dan neurokimia tersebut.

Dalam panggung politik, keberanian semu atau manipulatif ini sering kali menjadi trik berbahaya untuk meraih pendukung dan posisi. Para elite politik sering memanfaatkan orang-orang tertentu—seperti buzzer, simpatisan militan, atau kroni—untuk menyerang lawan politik secara agresif.

Manuver ini sengaja dirancang untuk menciptakan panggung ilusi bahwa figur yang dilindungi adalah sosok yang kuat, vokal, dan dominan. Sayangnya, manipulasi ini acap kali berhasil memperdaya massa.

Ketakutan dan retorika berapi-api digunakan untuk mengaburkan kebenaran, menutupi kebijakan yang lemah, atau menyingkirkan kritik dengan cara-cara yang tidak etis.

Lantas, dari mana sebenarnya keberanian sejati lahir? Keberanian sejati tidak lahir dari perlindungan manusia atau kekuasaan duniawi yang fana.

Orang yang berani secara sejati adalah mereka yang memiliki integritas, moral, dan menggantungkan sandaran hidupnya hanya kepada Tuhan.

Islam mengingatkan bahwa tidak ada tempat berlindung yang lebih kokoh selain perlindungan Allah SWT. Orang yang bertawakal kepada Sang Pencipta akan tetap rendah hati dan tenang meskipun memiliki kekuasaan atau posisi yang tinggi.

Mereka sadar bahwa semua atribut dunia hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja, sehingga keberanian mereka didasarkan pada kebenaran dan prinsip, bukan pada siapa yang menyokong mereka di belakang.

Di sinilah peran jurnalis investigasi menjadi sangat krusial. Dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan, wartawan bertanggung jawab untuk mengekspos dan menguak kebenaran di balik cerita-cerita yang disembunyikan.

Jurnalis investigasi harus mampu melihat melampaui retorika politik yang manipulatif. Dengan ketekunan menelusuri data dan fakta mendalam, seorang jurnalis harus bisa membongkar “lubang persembunyian” atau sandaran kekuasaan yang selama ini membuat sang “tikus” berani menertawakan kebenaran.

Melalui teknik investigasi yang independen dan berbasis fakta, jurnalis menelusuri aliran dana, konflik kepentingan, dan relasi kuasa yang selama ini disembunyikan dari publik.

Pada akhirnya, panggung sandiwara kekuasaan dunia pasti akan runtuh, dan lubang persembunyian tempat manusia berlindung akan hancur pada waktunya.

Keberanian sejati hanya milik mereka yang berjalan di atas kebenaran dengan bersandarkan pada kekuatan spiritual yang utuh. Al-Qur’an telah mengingatkan kita dengan sangat indah dalam Surah Al-Ankabut ayat 41 mengenai rapuhnya sandaran selain Allah:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”

Ayat ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang merasa berani dan jumawa karena merasa dilindungi oleh benteng kekuasaan, harta, atau kroni politik.

Saat seluruh sandaran semu itu rapuh bak sarang laba-laba, jurnalisme investigasi hadir sebagai instrumen duniawi untuk menyingkap kerapuhan tersebut.

Dengan membongkar manipulasi dan menegakkan fakta, kita tidak hanya sedang menjalankan tugas profesi, melainkan juga ikut merawat nilai-nilai keadilan dan kebenaran hakiki yang diperintahkan oleh Sang Pencipta.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *