JAKARTA — Forumjurnalisinvestigasi.com Strategi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memanfaatkan ketokohan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), dinilai gagal total. Meski Jokowi telah turun gunung melakukan safari politik selama dua bulan penuh, elektabilitas partai berlogo mawar tersebut justru jalan di tempat dan mendapat sentilan negatif dari publik.
Berdasarkan hasil survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 Agustus 2026, elektabilitas PSI untuk DPR RI masih tertahan di angka 1,9 persen. Angka ini menunjukkan posisi PSI stagnan dan tidak mengalami pergerakan berarti dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir.
Kritik Menohok: Strategi “Numpang” Eks Presiden
Pegiat politik, ekonomi, dan sosial, Arif Wicaksono, memberikan kritik tajam terkait fenomena ini. Menurutnya, intensitas kehadiran Jokowi dalam agenda politik PSI sama sekali tidak otomatis mengerek tingkat keterpilihan partai di mata masyarakat.
“Jokowi dua bulan full safari, elektabilitas PSI turun ke 1,9 persen. Kenapa belum naik-naik? Mungkin rakyatnya masih ingat mana yang beneran kerja, mana yang cuma numpang eks Presiden,” ujar Arif kepada media, Minggu (16/8/2026).
Arif menekankan bahwa pemilih saat ini sudah cerdas. Masyarakat bisa membedakan antara partai yang melakukan kerja politik nyata dengan partai yang hanya mengandalkan popularitas figur mantan kepala negara.
Ia bahkan melontarkan analogi satir untuk menggambarkan kegagalan efek ekor jas (coattail effect) Jokowi terhadap PSI. “Ternyata efeknya sama kayak charger rusak. Makin sering dicolokin, makin drop,” tandasnya.
Analisis Pengamat: Efek Jokowi Belum Berdampak
Senada dengan kritik tersebut, Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengonfirmasi bahwa aktivitas Jokowi yang turun langsung ke berbagai daerah sejauh ini belum mampu memberikan tambahan suara yang signifikan bagi PSI.
Meskipun mantan wali kota Solo dan gubernur Jakarta tersebut memiliki basis massa yang besar, pengaruhnya tidak serta-merta berpindah menjadi insentif elektoral bagi PSI. Kegagalan ini menjadi catatan kritis bagi strategi komunikasi dan pemenangan pemilu PSI ke depan, yang tampaknya terlalu bergantung pada figur luar ketimbang penguatan akar rumput partai sendiri.













