Gedung Putih boleh saja terus memproduksi narasi keunggulan militer. Mantan Presiden Donald Trump—yang kini kembali memegang kendali kekuasaan—mungkin tetap tampil dengan retorika sombongnya yang khas.
Namun, di balik dinding tebal Pentagon dan markas CIA, atmosfernya jauh berbeda. Berbagai laporan intelijen bocor dan investigasi jurnalis Barat independen membongkar satu fakta pahit: Washington sebenarnya sudah menjerit.
Secara de facto, dalam pergulatan geopolitik Timur Tengah, Iran telah memenangkan perang.
Kemenangan Teheran tidak diraih lewat adu domba armada jet tempur siluman atau invasi konvensional massal. Iran menggunakan strategi perang asimetris berlapis yang menguras stamina finansial dan mental Amerika Serikat selama bertahun-tahun.
Melalui jaringan Axis of Resistance (Poros Perlawanan), Iran berhasil mendikte ritme pertempuran di Yaman, Irak, Suriah, hingga Lebanon tanpa harus mengirim ribuan pasukan regulernya ke medan laga.
Laporan jurnalis Barat terkemuka kerap menyoroti bagaimana kalkulasi ekonomi perang ini menjadi mimpi buruk bagi Pentagon. Satu drone murah buatan Iran yang dioperasikan milisi lokal hanya membutuhkan biaya produksi beberapa ribu dolar.
Ironisnya, militer AS harus mencegatnya menggunakan rudal pertahanan udara seharga jutaan dolar per unit. Sistem pertahanan laut AS di Laut Merah babak belur menghadapi taktik pengurasan (war of attrition) ini.
Secara intelijen, AS juga menghadapi jalan buntu. Sanksi ekonomi maksimum yang dijatuhkan sejak era pertama Trump terbukti gagal melumpuhkan determinasi Iran.
Alih-alih runtuh, Teheran justru berhasil mengamankan jalur pasokan ekonomi baru lewat poros Eurasia, mempererat kerja sama taktis dengan Beijing dan Moskow. Blokade Barat tidak lagi mematikan bagi mereka.
Sikap keras kepala dan kesombongan yang terus dipamerkan Trump di panggung publik hanyalah kosmetik politik. Retorika tersebut sengaja dirawat demi menjaga gengsi domestik dan menenangkan sekutu regionalnya seperti Israel. Namun di lapangan, militer AS perlahan terjebak dalam posisi defensif yang melelahkan dan tanpa akhir yang jelas.
Sudah saatnya Washington bersikap legowo dan realistis menghadapi lanskap baru ini. Memaksakan konfrontasi terbuka hanya akan mempercepat kebangkrutan geopolitik paman Sam di kawasan Timur Tengah.
Iran telah membuktikan bahwa keunggulan teknologi mutakhir Barat bisa ditekuk oleh ketekunan strategi asimetris jangka panjang.













