JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau langsung bergerak di bawah tekanan berat pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (13 Oktober 2026).
Mata uang Garuda diproyeksikan akan berjalan fluktuatif di zona merah. Fluktuasi ini berada pada rentang teknikal baru di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS sepanjang hari ini.
Kondisi lesu pagi ini memperpanjang tren negatif dari penutupan perdagangan hari Senin kemarin. Di pasar spot, rupiah sempat tergelincir 14 poin atau sebesar 0,08 persen ke posisi Rp17.913 per dolar AS.
Pelemahan serupa juga tecermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang ditutup mendarat di level Rp17.899 per dolar AS. Jarak menuju batas psikologis Rp18.000 kini semakin menyempit.
Berdasarkan hasil investigasi pasar keuangan, biang kerok utama ambruknya taring rupiah didominasi oleh meluasnya sentimen menghindari aset berisiko (risk-off) oleh investor global di pasar ekuitas domestik dan regional.
Para pemilik modal kakap dilaporkan agresif mengurangi kepemilikan aset di pasar negara berkembang (emerging markets). Langkah ini diambil guna merespons tingginya ketidakpastian global saat ini.
Tekanan kian berlipat ganda akibat pernyataan terbaru dari salah satu pejabat bank sentral AS (The Fed), Alberto Musalem. Ia secara terbuka kembali membuka peluang adanya kenaikan suku bunga lanjutan di masa depan.
Ditambah lagi, pasar global saat ini tengah memasang sikap waspada tingkat tinggi menanti rilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI) Amerika Serikat yang akan keluar pekan ini.
Dua sentimen eksternal tersebut otomatis membuat indeks dolar AS kokoh perkasa. Investor pun cenderung mengamankan portofolio likuid mereka ke instrumen berdenominasi dolar dan obligasi pemerintah AS (US Treasury).
Selain gejolak moneter di Washington, eskalasi konflik geopolitik yang masih terus membara di kawasan Timur Tengah ikut memperkeruh suasana, menahan harga komoditas impor energi Indonesia di level yang tinggi.
Pelaku pasar domestik juga dilaporkan bersikap hati-hati memantau proses evaluasi indeks global MSCI terhadap pasar saham Indonesia yang ikut memicu volatilitas jangka pendek di bursa.
Guna menahan pelemahan yang lebih dalam, Bank Indonesia dikabarkan terus bersiaga penuh mengoptimalkan bauran intervensi tiga jalur (triple intervention) baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).













