JAKARTA — Nilai tukar rupiah menutup lembaran bulan Oktober 2026 dengan rapor merah yang mengkhawatirkan para pelaku pasar. Mata uang Garuda terperosok ke zona pelemahan yang kian dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir bulan ini.
Berdasarkan data pasar spot akhir pekan, kurs rupiah bertengger di level Rp 18.147 per dolar AS. Posisi ini mengonfirmasi akumulasi pelemahan mata uang domestik sebesar 1,41% sepanjang bulan Oktober 2026.
Anjloknya nilai tukar rupiah kali ini mencatat rekor buruk tersendiri di pasar keuangan. Ini menjadi pekan keempat berturut-turut di mana rupiah gagal keluar dari tekanan penguatan dolar global.
Sejumlah investigator dan analis finansial menyoroti adanya faktor eksternal dan internal yang berlarut-larut. Salah satu pemicu utama di pasar saham adalah rencana evaluasi indeks global dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Isu potensi penurunan peringkat pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market oleh MSCI memicu kepanikan investor. Aksi lego atau jual massal portofolio saham dan obligasi oleh korporasi asing tidak terhindarkan lagi.
Selain faktor sentimen MSCI, kondisi kesehatan fiskal dalam negeri juga menjadi sorotan tajam. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diproyeksikan melebar melampaui batas psikologis 3% dari PDB.
Hingga September lalu, realisasi defisit dilaporkan telah menembus angka Rp 319 triliun. Angka tersebut setara dengan 1,24% dari PDB, yang memicu keraguan pasar terhadap kesinambungan fiskal pemerintah.
Dari luar negeri, keperkasaan dolar AS didorong oleh rilis data ekonomi domestik Paman Sam yang tetap solid. Pertumbuhan ekonomi AS pada Kuartal III-2026 melonjak hingga 3,4%, melampaui prediksi awal pasar sebesar 3,2%.
Ditambah lagi, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) inti AS di level 3,1% membuat Bank Sentral AS (The Fed) tetap berhati-hati. Kebijakan moneter The Fed yang menahan suku bunga tinggi membatasi ruang bagi rupiah untuk melakukan rebound.
Kini, fokus para pelaku pasar tertuju pada langkah stabilisasi dari Bank Indonesia (BI) di pasar uang. Intervensi besar-besaran di pasar spot dan penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) diharapkan mampu meredam volatilitas liar di awal November besok.













