JAKARTA — Pasar komoditas global kembali bersiap menghadapi reli panjang logam mulia di penghujung tahun. Emas diproyeksikan mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung utama di tengah gejolak geopolitik dunia.
Proyeksi penguatan ini dipertegas oleh Greg Shearer, Kepala Departemen Base & Precious Metals di JP Morgan Global Research.
Pernyataan tersebut disampaikan secara resmi melalui pembaruan riset komoditas berkala yang dirilis dari markas utama JP Morgan di New York, Amerika Serikat. Proyeksi ini dikeluarkan untuk memetakan arah pasar komoditas global menjelang kuartal akhir.
Shearer mengungkapkan bahwa volatilitas pasar yang didorong oleh sektor energi dan inflasi menjadi alasan kuat mengapa emas tetap diburu. Institusinya memproyeksikan harga per ons rata-rata mampu menembus level US$ 6.000 per troy ounce pada kuartal terakhir.
Meski pergerakan teknis sempat tertahan di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, fondasi jangka panjang komoditas ini dinilai masih kokoh. Erosinya daya beli dan kekhawatiran atas anggaran fiskal AS ikut mempercepat perpindahan dana investor ke aset aman.
Faktor utama lain yang mendorong pergerakan ini adalah kelanjutan diversifikasi cadangan devisa oleh bank-bank sentral dunia. Langkah dedolarisasi di sejumlah negara berkembang membuat ketergantungan terhadap mata uang dolar AS mulai bergeser ke arah akumulasi emas fisik.
Namun, Shearer juga memberikan catatan kritis mengenai dinamika kebijakan moneter. Langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dalam merespons inflasi dengan potensi penyesuaian suku bunga akan menjadi faktor penentu seberapa tinggi reli emas akan bertahan di penghujung tahun.













