- Fenomena mal dan kafe yang tetap ramai di tengah ekonomi lesu disebabkan oleh Lipstick Effect, yaitu kebiasaan masyarakat menahan pembelian besar (seperti rumah atau kendaraan).
Namun tetap mengeluarkan uang untuk kesenangan kecil (seperti ngopi atau belanja barang diskon) guna mencari hiburan dan meredakan stres.
Banyak orang merasa tertekan dengan biaya hidup yang tinggi. Nongkrong di kafe atau berjalan-jalan di mal menjadi pelarian yang terjangkau untuk menjaga kesehatan mental tanpa membuat tabungan langsung terkuras.
Pergeseran Prioritas Gaya Hidup: Pengeluaran seperti kopi premium atau pakaian kecil dianggap sebagai “kemewahan yang terjangkau” (affordable luxury). Konsumen sering kali memilih “turun kasta” pengeluaran daripada harus menghilangkan kebiasaan bersenang-senang sama sekali.
Kemudahan Transaksi dan Promo: Adanya pembayaran digital (cashless) dan berbagai promo potongan harga di kafe maupun tenant mal secara psikologis membuat pengeluaran terasa lebih ringan.
Di era digital, mengunjungi mal dan kafe estetik sering didorong oleh tren media sosial. Konten seperti ‘rekomendasi tempat nongkrong’ membuat aktivitas ini menjadi bagian dari kebutuhan eksistensi.













