Example 728x250
Opini

Ketika Logika Tumbang di Tengah Emosi Massa

88
×

Ketika Logika Tumbang di Tengah Emosi Massa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Coba amati sebuah peristiwa demonstrasi. Begitu seseorang berbaur dalam kerumunan, identitas pribadinya perlahan memudar. Ia digantikan oleh semacam jiwa bersama.

Ia tidak lagi berpikir sebagai individu. Ia mulai mengikuti arus emosi orang-orang di sekelilingnya. Di titik ini, logika kalah cepat dibanding gelombang perasaan yang menular.

Fenomena ini menjadi kajian menarik dalam berbagai disiplin ilmu. Kerumunan menyimpan daya ledak yang luar biasa.

Sisi Psikologis

Secara psikologis, fenomena ini disebut deindividuasi. Menurut Gustave Le Bon, pelopor psikologi massa, kerumunan menciptakan jiwa kolektif.

Yang membuat kerumunan berbahaya bukan jumlah orangnya. Bahaya sejati muncul dari rasa anonim yang melekat di dalamnya.

Ketika merasa tak mengenali, seseorang merasa bebas. Ia merasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Rasa aman yang palsu ini sangat berbahaya.

Hal ini membuat orang biasa bisa melakukan hal ekstrem. Tindakan yang tak pernah ia bayangkan jika sendirian.

Sisi Biologis

Secara biologis, tubuh manusia merespons kerumunan secara otomatis. Otak kita memiliki sistem mirror neurons atau sel saraf cermin. Sel inilah yang bertanggung jawab atas penularan emosi yang instan.

Satu orang berteriak marah, lalu entah bagaimana semua ikut marah. Satu orang menangis haru, lalu ribuan orang ikut menitikkan air mata. Emosi dalam kerumunan menyebar secepat virus.

Ia berpindah dari satu dada ke dada lain. Proses ini terjadi tanpa butuh kata-kata atau alasan yang jelas. Hormon adrenalin yang melonjak bersama memicu aksi massa yang spontan.

Sisi Politis

Dalam panggung politik, psikologi kerumunan adalah senjata utama. Para penguasa dan orator ulung sangat memahami dinamika ini.

Mereka yang pandai mempengaruhi orang banyak tahu satu rahasia besar. Kerumunan tidak digerakkan oleh fakta dan data.

Massa digerakkan oleh gambaran yang kuat dan kalimat yang diulang terus-menerus. Teknik propaganda ini sangat efektif. Semakin sering sebuah ide didengungkan, semakin ia terasa benar.

Ide tersebut ditelan mentah-mentah meski tak pernah benar-benar dibuktikan. Politik kerap memanfaatkan anonimitas massa untuk menggalang kekuasaan.

Sisi Motivasional

Dari sudut pandang motivasional, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki kelompok (belongingness).

Masuk ke dalam kerumunan memberikan rasa keterikatan yang kuat. Individu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Energi kolektif ini memberikan dorongan motivasi yang masif. Namun, motivasi ini buta. Tanpa arah yang jelas, motivasi kerumunan bisa berubah menjadi tindakan destruktif.

Rasa memiliki yang keliru mengaburkan kompas moral pribadi demi solidaritas kelompok yang semu.

Nilai Islam

Islam memberikan perhatian besar pada perlindungan akal dan tanggung jawab personal. Ajaran Islam dengan tegas melarang umatnya ikut-ikutan tanpa dasar ilmu.

Fenomena kerumunan ini sangat bertolak belakang dengan konsep Tabayyun (konfirmasi data). Islam menuntut pemikiran yang kritis sebelum bertindak.

Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing di hadapan Allah. Surah Al-Isra ayat 36 mengingatkan manusia.

Pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Anonimitas di dunia tidak berlaku di akhirat.

Islam mendidik umatnya untuk tetap menjadi pribadi yang sadar dan berakal. Sekalipun berada di tengah jutaan manusia.

“Jangan ikuti mayoritas hanya karena itu mudah. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang memercayainya.” — Kahlil Gibran

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *