Example 728x250
Opini

Merajut Kembali Takdir Tuhan: Memulai dari Nol Tanpa Batas Usia

51
×

Merajut Kembali Takdir Tuhan: Memulai dari Nol Tanpa Batas Usia

Sebarkan artikel ini

Oleh : Wahyudi El Panggabean

  • Sebagai seorang jurnalis yang telah menghabiskan puluhan tahun di dunia penulisan dan investigasi berita, saya telah menyaksikan ratusan drama kehidupan manusia.

Di balik meja redaksi maupun saat turun langsung ke lapangan, saya melihat bagaimana roda takdir berputar; ada kejayaan yang runtuh dalam semalam, namun ada pula kebangkitan yang lahir dari puing-puing kehancuran.

Dari seluruh rekaman peristiwa tersebut, saya memetik satu kebenaran mutlak: Tuhan senantiasa membekali manusia dengan kekuatan luar biasa untuk memulai kembali kehidupan dari titik nol.

Di hadapan Sang Pencipta, lembaran hidup kita tidak pernah benar-benar ditutup selama napas masih berembus.

Sudut pandang ini bukan sekadar kalimat klise untuk menghibur diri, melainkan sebuah manifestasi keimanan yang mendalam. Proses belajar, bertobat, dan memperbaiki arah hidup sama sekali tidak mengenal batasan usia.

Pintu rahmat dan ruang kelas kehidupan milik-Nya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki keberanian untuk berbenah, tanpa memedulikan seberapa tua angka di kartu identitas mereka.

Dalam perspektif religius, momentum memulai kembali dari titik nadir ini merupakan hakikat dari proses hijrah.

Sering kali manusia merasa terpenjara oleh rasa bersalah masa lalu, kegagalan finansial, atau karier yang mandek di usia senja.

Namun, menyerah dan meratapi sisa usia adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat waktu. Allah tidak menilai hamba-Nya dari saat memulai sebuah perjalanan. Melainkan bagaimana ia mengakhirinya dengan indah (husnul khatimah).

Menjadi tua adalah kepastian biologis, namun tumbuh menjadi pribadi yang terus mengasah ilmu dan iman adalah pilihan spiritual.

Melalui kacamata penulisan, setiap coretan masa lalu yang kelam hanyalah bab awal dari sebuah buku. Kita adalah penulis yang memegang pena untuk merancang bab baru yang lebih berkah atas izin-Nya.

Sejarah telah mengabadikan banyak pembuktian bahwa usia hanyalah angka dalam kamus perjuangan.

Kita dapat mengambil hikmah dari kisah nyata Harland Sanders, sang pendiri KFC. Beliau menghabiskan mayoritas umurnya dalam lingkaran penolakan dan kegagalan kerja yang beruntun.

Baru pada usia 65 tahun—sebuah fase di mana banyak orang memilih pasrah dan pensiun—ia mendirikan waralabanya dari nol berbekal modal jaminan sosial yang sangat minim.

Jika seorang Sanders mampu menjemput kesuksesan duniawi di usia senja melalui ketekunan bisnis, maka sebagai umat beriman, kita memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk mengetuk pintu takdir melalui jalur ilmu dan amal.

Fenomena spiritual ini selaras dengan nasihat bijak dari sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata:

Dua hal yang menentukan kualitas dirimu: kesabaranmu ketika engkau tidak memiliki apa-apa, dan sikapmu ketika engkau memiliki segalanya.”

Saat berada di titik nol, kesabaran dan kepasrahan kita sedang diuji untuk menjadi fondasi kokoh bagi langkah berikutnya.

Bagi saya, transisi hidup dari titik nol adalah sebuah proses penyuntingan (editing) jiwa, di mana kita membuang ego-ego paragraf lama yang tidak penting dan menyisakan substansi iman yang murni.

Pada akhirnya, hidup ini adalah madrasah sepanjang hayat. Ketika Tuhan masih mengizinkan jantung kita berdetak hari ini, itu adalah isyarat mutlak bahwa tugas kita di bumi belum selesai.

Mari kita dekap kekuatan dari-Nya, tundukkan kepala untuk terus belajar, dan langkahkan kaki dengan berani untuk memulai kembali dari nol.**

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *