Example 728x250
Hukum & Kriminal

Mengusut Misteri Kejatuhan IHSG: Bareskrim Turun Tangan, Indikasi Sabotase atau Efek Domino MSCI?

48
×

Mengusut Misteri Kejatuhan IHSG: Bareskrim Turun Tangan, Indikasi Sabotase atau Efek Domino MSCI?

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pasar modal Indonesia tengah berada dalam guncangan hebat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas sebesar 11,57% dan kehilangan 678,67 poin ke level 5.185,11 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10).

Kejatuhan ekstrem yang sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) ini kini tidak lagi sekadar dilihat sebagai kepanikan pasar biasa, melainkan pintu masuk bagi penyelidikan kriminal skala besar.

Sinyal merah atas stabilitas ekonomi nasional ini direspons cepat oleh Korps Bhayangkara. Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa Tim Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah diterjunkan ke lapangan.

Langkah ini diambil untuk mengendus kemungkinan adanya aroma intervensi ilegal, penipuan, hingga manipulasi pasar terstruktur yang memanfaatkan kepanikan global.

Langkah ofensif Polri ini memicu perhatian dari berbagai kalangan hukum. Pemerhati Hukum Pidana dari Universitas Bhayangkara Jakarta, Edi Saputra Hasibuan, menyatakan dukungan penuhnya terhadap respons taktis Kapolri.

Menurutnya, gejolak yang tidak wajar di lantai bursa harus dibaca secara kritis sebagai ancaman nyata terhadap keamanan finansial publik.

“Polri harus hadir dengan insting investigatif yang kuat ketika melihat ada stabilitas pasar yang goyang secara ekstrem. Kami meminta agar dugaan kejahatan kerah putih yang merugikan investor ritel dan merusak integritas pasar ini diusut secara transparan, tuntas, dan berbasis bukti digital yang solid,” ujar Edi saat diwawancarai di Jakarta, Minggu (18/10).

Benang Merah Sentimen Global dan Potensi ‘Insider Trading’

Secara kasat mata, kejatuhan indeks dipicu oleh kabar buruk dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana meninjau ulang status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen ini sukses melempar nilai tukar rupiah ke atas level Rp18.000 per dolar AS.

Namun, bagi para jurnalis investigasi dan penegak hukum, pertanyaan besarnya adalah: Siapa yang paling diuntungkan dari kepanikan massal ini?

Kondisi pasar yang ambruk kerap dimanfaatkan oleh aktor-aktor tak terlihat untuk melakukan aksi ambil untung lewat jalur ilegal, penyebaran disinformasi terencana, atau manipulasi harga (market manipulation). Tekanan pasar yang destruktif ini tidak hanya menghanguskan nilai investasi langsung masyarakat, tetapi juga melumpuhkan persepsi positif dunia usaha terhadap ekonomi Indonesia.

Hingga saat ini, tim gabungan dari Bareskrim bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan terus mendalami lalu lintas transaksi mencurigakan yang terjadi sesaat sebelum dan selama interupsi pasar hari Jumat lalu. Publik kini menanti, apakah penyelidikan ini mampu menyeret para spekulan ke meja hijau, ataukah kejatuhan ini murni akibat rapuhnya fundamental pasar domestik menghadapi sentimen global. Sumber: sindonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *