Example 728x250
Hukum & Kriminal

Efek Domino Suket Palsu: Akankah Prabowo Terseret Makzul?

3
×

Efek Domino Suket Palsu: Akankah Prabowo Terseret Makzul?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Putusan Mahkamah Agung (MA) mengguncang jagat politik nasional.

MA resmi membatalkan Surat Keterangan (Suket) penyetaraan ijazah SMA milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dokumen pendaftaran Pilpres 2024 itu dinyatakan tidak sah dan wajib dimusnahkan.

Publik kini bertanya-tanya arah badai ini.
Apakah polemik ini mampu menyeret Presiden Prabowo Subianto? Bagaimana jika sang wakil presiden benar-benar dimakzulkan?

Dari sudut pandang hukum tata negara, pemakzulan bersifat individual. Pakar hukum UGM, Zainal Arifin Mochtar, menilai putusan ini membuka ruang impeachment bagi Gibran.

Alasannya kuat, yaitu tidak lagi memenuhi syarat administrasi atau dugaan melakukan perbuatan tercela.

Namun, UUD 1945 tidak mengenal pemakzulan otomatis bagi Presiden akibat kesalahan Wakil Presiden.

Meski begitu, Denny Indrayana memberikan peringatan keras. Prabowo tetap bisa terseret jika salah melangkah.

Jika Presiden mendiamkan manipulasi hukum, ia dinilai melakukan pembiaran. Presiden bisa dituduh melanggar konstitusi karena tidak mengeksekusi putusan pengadilan.

Secara politik, dampak kasus ini sangat masif.
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menyoroti adanya tuntutan dari publik.

Pihak oposisi mulai mendesak agar Prabowo ikut bertanggung jawab. Sebab, mereka maju dalam satu paket pencalonan yang linier.

Koalisi pemerintahan terancam mengalami keretakan internal. Pendukung Gibran kini giat membangun narasi solidaritas paket politik.

Ini adalah sandera politik agar Prabowo ikut membela posisi Gibran.

Jika Prabowo melepas Gibran, stabilitas politik di parlemen pasti bergoyang.

Di sektor ekonomi, ketidakpastian ini memicu sentimen negatif. Pasar sangat membenci kekosongan hukum dan ancaman krisis legitimasi.

Investor asing berpotensi menahan modal akibat risiko stabilitas nasional.

Roda ekonomi melambat jika konsentrasi kabinet pecah mengatasi kisruh internal.

Dari kacamata komunikasi massa, badai informasi ini sulit diredam. Media sosial penuh dengan tuntutan pemakzulan dan sentimen ketidakpercayaan publik.

Upaya public relations istana akan kewalahan menghadapi fakta hukum yang benderang.
Citra pemerintah di mata internasional kini berada di titik nadir.

Kasus ini bukan lagi sekadar urusan selembar kertas suket. Ini adalah ujian integritas terbesar bagi kepemimpinan nasional.

Prabowo dihadapkan pada pilihan sulit: menyelamatkan sekutu politiknya atau menyelamatkan wibawa konstitusi negara.

Menatap kemelut ini, kita patut merenungkan petuah bijak dari negarawan legendaris Thomas Jefferson:

“Ketika suatu pemerintah melanggar hak-hak rakyatnya dan mengabaikan hukum dasar, maka pemberontakan moral bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban demi tegaknya kebenaran.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *