Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Terkepung Awan Hitam Timur Tengah: Rupiah Awal Pekan Loyo Menuju Zona Genting Rp17.950 per Dolar AS

57
×

Terkepung Awan Hitam Timur Tengah: Rupiah Awal Pekan Loyo Menuju Zona Genting Rp17.950 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) langsung dibuka lesu dan dihantam tekanan berat pada awal pembukaan perdagangan pekan ini, Senin pagi (12 Oktober 2026).

Berdasarkan data terkini dari pasar spot keuangan Bloomberg, mata uang Garuda terpantau fluktuatif namun bergerak melemah ke kisaran Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pergerakan ini menghapus penguatan tipis akhir pekan lalu yang sempat parkir di level Rp17.899 per dolar AS.

Sementara itu, acuan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ikut tergelincir dari jangkar amannya ke posisi Rp17.884 per dolar AS. Angka ini mempertegas rapuhnya fondasi mata uang domestik pagi ini.

Hasil investigasi pasar mendeteksi adanya kepungan sentimen eksternal yang memicu volatilitas liar. Pelaku pasar global dilaporkan cemas memantau perluasan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Serangan teranyar kelompok Houthi ke fasilitas strategis Arab Saudi menjadi sumbu utama yang memicu kekhawatiran seretnya pasokan energi. Dampaknya, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik dan menekan negara importir energi seperti Indonesia.

Beban rupiah kian berlipat ganda menyusul bertahannya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) di level tinggi. Keperkasaan dolar AS juga disokong pidato ketat (hawkish) pejabat The Fed yang menilai inflasi Washington belum sepenuhnya jinak.

Dari dalam negeri, sentimen negatif masih membayangi pasca-rilis postur fiskal oleh Kementerian Keuangan. Laporan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per September 2026 membengkak tembus Rp319 triliun atau 1,24 persen dari PDB.

Meski realisasi belanja tersebut diklaim masih dalam koridor rencana, pasar merespons dengan aksi ambil posisi aman. Aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar surat utang negara rawan terjadi.

Pengamat pasar komoditas dan mata uang memproyeksikan, jika tensi geopolitik global kian memanas dalam 24 jam ke depan, rupiah terancam kehilangan taring. Mata uang nasional rentan terdepresiasi lebih dalam menguji batas resistansi psikologis di rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS.

Otoritas moneter Bank Indonesia dikabarkan terus bersiaga penuh di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah intervensi tiga jalur dinilai menjadi benteng terakhir agar rupiah tidak terjungkal menembus level batas bawahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *