Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Terhimpit Sinyal Merah Inflasi Amerika: Rupiah Ambles ke Rp17.903 per Dolar AS, Skenario Rp18.000 Terus Mengintai

65
×

Terhimpit Sinyal Merah Inflasi Amerika: Rupiah Ambles ke Rp17.903 per Dolar AS, Skenario Rp18.000 Terus Mengintai

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Otot nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali layu dan tergelincir masuk ke jurang tekanan berat pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (15 Oktober 2026).

Berdasarkan data terkini dari pasar spot keuangan global, mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.903 per dolar AS. Koreksi harian ini memperpanjang tren rentan rupiah yang kian mendekati zona psikologis kritis Rp18.000.

Pelemahan serupa juga membayangi pergerakan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang tertahan di level Rp17.898 per dolar AS. Posisi ini menegaskan keterbatasan ruang gerak mata uang domestik untuk memukul balik.

Hasil investigasi mendalam mendeteksi bahwa hantaman utama rupiah bersumber dari rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat periode September yang melonjak di luar ekspektasi pasar hingga 3,7 persen secara tahunan (YoY).

Kenaikan laju inflasi di Washington tersebut langsung memicu kekhawatiran massal di Wall Street. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan Bank Sentral AS (The Fed) bertindak lebih garang dalam menahan suku bunga tinggi.

Dampak rambatan dari sentimen data ekonomi Paman Sam ini sontak mengerek keperkasaan indeks dolar AS global. Modal asing pun bergerak agresif keluar dari pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Kondisi kian diperparah oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Laporan intelijen mendeteksi adanya taktik baru Iran yang membidik jalur kapal-kapal logistik komoditas di Selat Hormuz demi menjaga harga minyak global tetap tinggi.

Ketegangan energi global ini menahan harga minyak mentah internasional di zona mahal. Risiko ini secara otomatis membayangi Indonesia dengan potensi pembengkakan defisit transaksi berjalan (current account deficit) akibat tingginya biaya impor BBM.

Meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,1 persen untuk tahun 2026, hal tersebut belum cukup kuat menjadi penopang otot rupiah dari gempuran eksternal.

Direktur pasar berjangka memproyeksikan perdagangan rupiah sepanjang hari ini akan berjalan fluktuatif di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS, dengan potensi pelemahan sepekan dapat melebar hingga kisaran Rp18.060.

Guna meredam volatilitas liar, Bank Indonesia dilaporkan terus bersiaga penuh mengoptimalkan instrumen intervensi valas demi menjaga stabilitas moneter dalam negeri agar tidak jebol dari batas psikologisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *