- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan penguatan tajam, didorong oleh meredanya eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen ini dipicu oleh kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz. Berita positif ini turut menekan harga minyak global, memperbaiki sentimen risiko, dan melemahkan mata uang safe-haven.
Pemulihan nilai tukar mata uang Garuda ini membawa dampak krusial bagi perekonomian nasional dengan rincian berikut:
Rupiah terapresiasi menuju kisaran Rp17.708 hingga Rp17.728 per dolar AS, setelah sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang masa di atas level Rp18.100 pada awal Juni 2026.
Dampak Suku Bunga: Penguatan kurs yang signifikan berpotensi menahan Bank Indonesia dari siklus kenaikan suku bunga lanjutan, setelah sebelumnya sempat menaikkan BI Rate ke level 5,50% untuk menstabilkan rupiah.
Kepercayaan Investor:
Tren positif ini berhasil meningkatkan diversifikasi investasi dan mengembalikan optimisme investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Meskipun berita pembukaan Selat Hormuz memberikan angin segar, pelaku pasar tetap memantau rute pasokan energi dunia yang akan memakan waktu penyesuaian.













