FORUM JURNALIS INVESTIGASI — Tekanan moneter nasional semakin tidak terkendali pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 27 Oktober 2026. Mata uang rupiah Indonesia terpantau kian terkapar parah di dalam zona merah ekstrim dan diperdagangkan melemah menembus level psikologis baru di angka Rp18.135 per dolar AS.
Kemerosotan tajam sebesar 55 poin atau 0,30 persen ini tercatat dari penutupan perdagangan pasar spot sebelumnya. Posisi ini membawa nilai tukar rupiah merangkak sangat dekat dengan level terlemahnya sepanjang sejarah modern.
Lonjakan Harga Minyak Global dan Krisis Inflasi Impor
Prahara Minyak Dunia: Pelemasan nilai tukar garuda ini didorong kuat oleh lonjakan harga minyak mentah global yang bertahan kokoh di kisaran tinggi USD 115 per barel.
Beban Subsidi APBN: Tingginya harga komoditas energi tersebut otomatis memicu ancaman nyata imported inflation (inflasi impor) yang memperberat neraca perdagangan eksternal.
Inflasi Batas Atas: Data terbaru mencatat posisi inflasi domestik saat ini telah merangkak naik dan berada di batas atas sasaran bank sentral pada level 3,28%.
Sengkarut Retakan Fiskal Domestik dan Sentimen MSCI
Sorotan Independensi BI: Ekonom senior CORE Indonesia mengungkapkan bahwa pelemahan kali ini secara spesifik dipicu ketakutan pasar terhadap pengelolaan fiskal serta risiko erosi independensi Bank Indonesia.
Eksodus Modal Senyap: Sentimen negatif membubung tinggi akibat rencana degradasi status bursa ekuitas Indonesia menjadi standalone market oleh penyedia indeks global MSCI.
Aksi Jual Bersih Asing: Pelaku pasar global terkonfirmasi telah melakukan penjualan bersih saham (net sell) hingga USD 71 juta dalam jangka pendek.
Skenario Batas Pertahanan Menjelang FOMC
Proyeksi Pekan Ini: Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang pekan berjalan akan berfluktuasi lebar di rentang rentan Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Intervensi Pasar Valas: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan komitmen bank sentral untuk terus melakukan intervensi aktif berlapis di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Menanti Palu The Fed: Pelaku pasar komoditas terpantau mengambil sikap defensif dan konservatif menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terkait kepastian suku bunga global.













