Bank Indonesia menargetkan nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) melonjak ke angka 55 miliar dolar AS (sekitar Rp998 triliun) sepanjang 2026.
Angka ini meroket lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi tahun sebelumnya yang hanya sebesar 25 miliar dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut lompatan ini didorong oleh penguatan kerja sama bilateral dengan negara-negara mitra utama.
China menjadi kontributor terbesar dalam mekanisme tanpa dolar tersebut.
Strategi Bilateral dan Beban Kurs
BI mengeklaim pendekatan bilateral jauh lebih efektif meredam tekanan eksternal.
Diversifikasi mata uang diarahkan untuk menyangga fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level kritis.
Selain LCT, BI mencatat ekspansi QRIS lintas negara (Cross-Border) yang kini aktif di tujuh negara.
Singapura dan India mengantre masuk skema lanjutan ini.
Catatan Investigasi: Di Balik Tirai “De-Dolarisasi”
Ketergantungan Baru: Seberapa besar porsi China mendominasi transaksi LCT sebesar 55 miliar dolar AS tersebut? Apakah penggeseran dolar AS ke mata uang tertentu justru menciptakan kerentanan baru terhadap kebijakan moneter Beijing?
Efektivitas di Lapangan: Dengan volume QRIS kuartal III 2026 yang tumbuh 75,8% (yoy) dan 97% merchant merupakan UMKM, apakah kebijakan LCT benar-benar dirasakan oleh sektor riil atau hanya berputar di level korporasi besar?
Tekanan Nilai Tukar: Di saat proyeksi LCT digenjot, kurs rupiah terhadap dolar AS tetap mengalami tekanan pasar spot. Sejauh mana instrumen LCT mampu menahan arus modal keluar (outflows) di tengah ketidakpastian global?













