Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Kondisi Nilai Rupiah Hari Ini

63
×

Kondisi Nilai Rupiah Hari Ini

Sebarkan artikel ini

Defisit APBN Membengkak Rp319 Triliun: Otot Rupiah Akhir Pekan Rapuh di Level Rp17.899

JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup akhir pekan pertama Oktober dengan performa yang cenderung rapuh dan tertahan di zona konsolidasi sempit.

Berdasarkan data pasar spot finansial Bloomberg, mata uang Garuda bertengger di posisi Rp17.899 per dolar AS. Angka ini mencerminkan penguatan tipis 0,09 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp17.915 per dolar AS.

Sementara itu, grafik perdagangan khusus pada libur akhir pekan, Sabtu (10 Oktober 2026), terpantau bergerak di rentang sempit. Posisi riil kurs bayangan interbank bertahan di kisaran Rp17.875 hingga Rp17.895 per dolar AS.

Hasil investigasi mendalam terhadap postur fiskal domestik menunjukkan, pelemahan jangka panjang rupiah dipicu oleh rilis laporan Kementerian Keuangan. Otoritas mencatatkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per September 2026 membengkak hingga Rp319 triliun.

Nilai defisit masif tersebut setara dengan 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap ketahanan likuiditas belanja negara di sisa akhir tahun.

Dari kanal eksternal, tekanan bertubi-tubi didorong oleh pernyataan terbaru Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Christopher Waller. Ia menegaskan kebijakan moneter ketat (hawkish) berupa kenaikan suku bunga lanjutan masih sangat diperlukan untuk meredam inflasi Washington.

Pernyataan hawkish tersebut dikonfirmasi oleh rilis data ketenagakerjaan AS. Klaim awal tunjangan pengangguran di sana menyusut ke angka 197.000, membuktikan pasar tenaga kerja Paman Sam masih terlampau kokoh.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah ikut membebani pergerakan kurs. Konflik bersenjata ini menahan harga minyak mentah dunia di level tinggi, yang otomatis mengancam pembengkakan biaya impor energi Indonesia.

Menyikapi otot rupiah yang rapuh, para analis memproyeksikan pergerakan kurs pada pembukaan awal pekan depan akan berjalan fluktuatif namun cenderung melemah. Rupiah diprediksi akan menguji rentang kritis baru di kisaran Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *