Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Benteng Akhir Pekan Jebol: Rupiah Tersungkur ke Rp18.080 per Dolar AS Akibat Aksi Jual Masif Investor Asing

87
×

Benteng Akhir Pekan Jebol: Rupiah Tersungkur ke Rp18.080 per Dolar AS Akibat Aksi Jual Masif Investor Asing

Sebarkan artikel ini

FORUM JURNALIS INVESTIGASI — Ketegangan moneter nasional memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan pada pembukaan perdagangan Sabtu pagi, 24 Oktober 2026. Mata uang rupiah Indonesia resmi menutup pekan ini dengan terpuruk di dalam zona merah pekat, bertengger di level psikologis bawah Rp18.080 per dolar AS.

Pelemahan harian sebesar 0,11 persen ini menjadi akumulasi kemerosotan berturut-turut dalam tiga hari perdagangan terakhir. Fluktuasi tajam di pasar valuta asing domestik sekaligus mengonfirmasi jebolnya pertahanan stabilitas kurs hingga 0,29 persen sepanjang pekan berjalan.

Prahara Capital Outflow dan Tekanan Beruntun Pasar Obligasi

Eksodus Modal Asing: Pelemahan parah ini dipicu langsung oleh tingginya volume penjualan bersih aset (net sell) oleh investor asing secara masif di pasar modal Indonesia.

Kejatuhan Kurs Referensi: Seirama dengan pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) ditutup merosot ke level Rp18.069 per dolar AS.

Dominasi Indeks Dolar: Sementara mata uang garuda melemah, indeks dolar global (DXY) merangkak kokoh menguat ke level 101,73 akibat sentimen risk-off global.

Efek Domino Bayang-Bayang Sanksi dan Isu Degradasi MSCI

Sentimen Negatif Bursa: Ketakutan pelaku pasar global tak lepas dari mencuatnya rencana reklasifikasi bursa saham Indonesia oleh lembaga indeks MSCI menjadi standalone market.

Hantaman Internal OJK: Sentimen kian memburuk setelah penegak hukum pasar modal mengumumkan penjatuhan sanksi denda fantastis senilai Rp2,1 triliun kepada emiten kakap domestik.

Penyusutan Mata Uang Regional: Depresiasi rupiah melanda berbarengan dengan kelemahan mayoritas mata uang Asia, dipimpin oleh kejatuhan dolar Taiwan (0,16%) dan peso Filipina (0,12%).

Dilema Kebijakan Moneter Hasil RDG Bank Indonesia

BI-Rate Bertahan Tinggi: Merespons guncangan makroekonomi ini, Bank Indonesia (BI) memilih skenario konservatif dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Penaikan Uang Jaminan: Guna memitigasi pelarian likuiditas valas, BI resmi mendongkrak suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin ke level 5,00 persen.

Banjir Instrumen Intervensi: Otoritas moneter mengonfirmasi akan terus memutar ketat volume penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pasar sekunder demi menyerap kelebihan likuiditas dan menstabilkan kurs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *