JAKARTA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan pada Senin pagi, 2 November 2026, dengan tren yang mengkhawatirkan. Mata uang Garuda terpantau melemah 0,06 persen ke level Rp18.147 per dolar AS di pasar spot.
Tekanan ini memperpanjang tren koreksi mingguan rupiah yang terpangkas sebesar 0,37 persen. Angka ini semakin mendekati rekor terburuk sepanjang sejarah moneter Indonesia.
Para analis keuangan mendeteksi adanya pergeseran sentimen yang masif di kalangan pelaku pasar. Investor asing dilaporkan terus melakukan aksi jual bersih (net sell) secara berkelanjutan pada pasar saham dalam negeri.
Kondisi tersebut diperparah oleh dinamika internal makroekonomi. Pasar saat ini sedang dalam mode menghindari risiko akibat bayang-bayang lonjakan inflasi domestik serta ketidakpastian iklim investasi.
Secara eksternal, volatilitas pergerakan dana global menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat ikut menekan mata uang berkembang. Akibatnya, Bank Indonesia dipaksa bekerja lebih keras guna menahan guncangan volatilitas valuta asing agar tidak merembet ke sektor riil.
Para pengamat memproyeksikan pergerakan kurs rupiah hari ini akan bergerak rentan di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Fluktuasi tajam ini berpotensi memicu pembengkakan biaya impor bagi industri manufaktur nasional dalam waktu dekat.













