Example 728x250
Opini

Kekuasaan & Jabatan Membuat Orang Awet Muda, Kenapa…?

43
×

Kekuasaan & Jabatan Membuat Orang Awet Muda, Kenapa…?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Mengapa seorang pejabat tetap tampak bugar dan klimis di usia senja? Mengapa wajah mereka mendadak keriput dan tubuhnya membungkuk begitu jabatan terlepas?

Ini bukan sihir kosmetik. Ini adalah daya pikat kekuasaan.

Kekuasaan terbukti secara ilmiah mampu menunda penuaan. Sebaliknya, kehilangan jabatan sering kali menjadi pembunuh berdarah dingin yang paling cepat.

Henry Kissinger, mantan diplomat ulung Amerika Serikat, pernah berujar secara lugas:

“Power is the ultimate aphrodisiac.” Kekuasaan adalah obat kuat yang paling mutakhir.

Ucapan itu bukan sekadar metafora politik. Itu adalah realitas biologis yang nyata.

Secara biologi, kursi kekuasaan memicu banjir hormon dopamin dan serotonin di dalam otak. Hormon-hormon ini menstimulasi rasa percaya diri, energi tanpa batas, dan kebahagiaan.

Status sosial yang tinggi juga meredam produksi kortisol, sang hormon stres perusak sel. Akibatnya, metabolisme terjaga dan regenerasi sel berjalan optimal. Pejabat pun tampak selalu awet muda.

Dari kacamata psikologi, jabatan memberikan pasokan ego yang luar biasa. Setiap hari ego mereka diberi makan oleh penghormatan, ajudan yang sigap, dan protokoler yang kaku.

Secara motivasional, adrenalin mereka terus dipacu oleh keputusan-keputusan besar yang memengaruhi hajat hidup orang banyak.

Rasa dibutuhkan inilah yang menjadi bahan bakar utama yang membuat mereka tetap menyala.

Namun, dunia politik adalah panggung sandiwara yang kejam. Secara politis, posisi elite menuntut seseorang untuk selalu tampil prima &  perkasa. Tanpa celah di depan publik dan lawan politik.

Penampilan yang awet muda dan berenergi adalah modal politik.  Untuk menegaskan bahwa mereka masih memegang kendali penuh.

Petaka baru dimulai ketika peluit akhir dibunyikan. Begitu jabatan dicopot, semua fasilitas, sorot kamera, dan kepatuhan bawahan lenyap dalam semalam. Saat itulah Post-Power Syndrome menyerang.

Jatuhnya Presiden Soeharto pada Mei 1998 adalah contoh paling riil dalam sejarah negeri ini.

Selama 32 tahun bertakhta, penguasa Orde Baru itu selalu tampak tegap, tersenyum berwibawa, dan bugar di setiap pidatonya.

Namun, begitu menyatakan berhenti dan turun takhta, keperkasaan itu runtuh seketika. Hanya dalam hitungan bulan setelah terisolasi di Jalan Cendana, kesehatan fisiknya memburuk drastis.

Berbagai penyakit termasuk stroke menyerang, dan wajahnya menua dengan sangat cepat.

Secara biologis, pasokan dopamin Soeharto terhenti drastis. Tubuhnya mengalami syok akibat “sakau” hormon kekuasaan.

Kortisol pun melonjak tanpa kendali, merusak imun tubuh, dan mempercepat penuaan fisik secara ekstrem. Hilangnya identitas diri sebagai orang nomor satu mengubah biologinya secara tragis.

Nilai-nilai Islam telah lama mengingatkan kita tentang bahaya laten dari mabuk kekuasaan ini. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat loba (tamak) terhadap kekuasaan. Namun, kekuasaan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat.”

Islam memandang jabatan bukanlah kemuliaan, melainkan amanah yang berat. Ketika seseorang menganggap jabatan sebagai identitas diri—bukan sebagai ladang pengabdian sementara—kehancuran mental saat turun takhta menjadi sebuah keniscayaan.

Firaun dan para diktator sejarah telah membuktikan bahwa kekuasaan absolut selalu menciptakan ilusi keabadian. Padahal, keabadian fisik di atas kursi empuk adalah fatamorgana.

Pada akhirnya, mereka yang awet muda karena jabatan akan menua secara tragis oleh waktu. Mengutip kalimat bijak dari Socrates:

“Ia yang tidak puas dengan apa yang dia miliki, tidak akan pernah puas dengan apa yang dia inginkan.”

Kekuasaan mungkin bisa menunda keriput di wajah. Tetapi kelalaian dalam mengembannya hanya akan menyisakan kerutan penyesalan yang mendalam.  Di akhir masa jabatan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *