Pernahkah Anda dihadapkan pada jurang kehancuran finansial yang mematikan? Sekitar satu dekade silam, saya pernah dibelit utang hingga mencapai Rp 450 juta. Saat itu, saya mengajar sebagai dosen luar biasa di sebuah universitas swasta dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.
Beban hidup sangat menghimpit: dua anak sedang menempuh pendidikan tinggi, rumah bocor, cicilan mobil dan kredit rumah menunggak, bahkan sebidang tanah tergadai pun tak luput dari tunggakan.
Puncaknya, saya harus mundur dari posisi dosen akibat pergantian pimpinan fakultas yang drastis memangkas jadwal mengajar saya. Keputusan berat harus diambil. Di tengah situasi yang tampak buntu ini, saya teringat akan janji Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 2-3:
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”
Secara psikologis, tekanan hebat yang saya alami saat itu adalah sebuah fase krusial yang disebut the rock bottom (titik nadir). Dalam kajian psikologi kognitif, momen kepepet ini sering kali memaksa otak mengaktifkan neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk mendobrak pola pikir lama dan memunculkan kreativitas ekstrem demi bertahan hidup. Krisis tidak lagi disikapi sebagai ancaman, melainkan sebagai pemicu hormon adrenalin yang memicu lompatan insting.
Suatu sore, saya menggelar rapat keluarga bersama istri dan kedua putri kami. Di saat-saat kritis itulah, sebuah tekad bulat muncul: saya harus bisa keluar dari belenggu masalah ekonomi ini dalam bulan itu juga. Keputusan ini senada dengan kata bijak dari Anthony Robbins:
“Di saat-saat Anda mengambil keputusan sah-sah saja masa depan Anda dibentuk.”
Selesai rapat, saya langsung menelepon seorang murid di luar kota, menyampaikan niat untuk datang dan meminjam uang Rp 500 ribu untuk ongkos transportasi. Sesampainya di kota tersebut, tanpa rencana yang pasti, ide brilian tiba-tiba menyergap.
Saya meminta tolong untuk dipertemukan dan mewawancarai Sekretaris Daerah (Sekda) setempat. Langkah berani ini sejalan dengan sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, di mana Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang mengambil harta manusia (berutang) dengan niat ingin melunasinya, niscaya Allah akan tunaikan (niatnya itu) untuknya…”
Keesokan harinya, wawancara berjalan sukses. Momen ini menjadi batu loncatan yang melahirkan ide besar untuk menerbitkan sebuah majalah. Sebelum majalah itu naik cetak, saya diminta menghadap Bupati untuk tampil sebagai cover majalah tersebut.
Gayung bersambut, sang Bupati bersedia memasang iklan pariwara dalam jumlah besar. Berbekal pesanan bernilai tinggi itu, saya berangkat ke Jakarta untuk mencetak majalah tersebut. Dari keuntungan cetakan edisi perdana saja, seluruh utang saya yang ratusan juta rupiah bisa terlunasi.
Peristiwa ini menyadarkan saya akan betapa kuatnya pengaruh sebuah keputusan. Ketika keberanian dipadukan dengan tindakan nyata dan niat yang tulus untuk lepas dari utang, mentalitas korban (victim mentality) runtuh dan berubah menjadi mentalitas pemenang (growth mindset). Jalan keluar yang sebelumnya tampak mustahil dapat terwujud atas izin Allah SWT.













