Example 728x250
MOTIVASI

Retorika Kosong di Ruang Publik: Menakar ‘Polusi Kata’ dan Urgensi Puasa Bicara

8
×

Retorika Kosong di Ruang Publik: Menakar ‘Polusi Kata’ dan Urgensi Puasa Bicara

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

“Sebaik-baik tutur kata adalah sedikit jumlah hurufnya, tetapi berlimpah panen buah hikmahnya dan lebih dalam pengaruhnya” (Abu Al Atahiya_ Ulama Klasik dari Irak).

Ungkapan emas dari Abu Al-Atahiya, kini terasa seperti tamparan keras di tengah riuhnya peradaban modern.

Hari ini, kita hidup di era di mana kata-kata diproduksi secara massal. Murah, cepat, dan tanpa jeda.

Di media sosial, mimbar dakwah, panggung motivasi, hingga seminar korporat, jutaan kosakata berseliweran setiap detik.

Sayangnya, kelimpahan kuantitas ini tidak berbanding lurus dengan kualitas. Ruang publik kita sedang mengalami obesitas kata.

Ini adalah kondisi mendesak. Perlu investigasi mendalam mengapa manusia modern begitu gemar memproduksi ucapan yang miskin makna.

Secara biologis, otak manusia dirancang untuk efisiensi. Pemrosesan bahasa berpusat pada area Broca dan Wernicke di korteks serebral.

Aktivitas berbicara sebenarnya membutuhkan energi metabolik yang besar dalam bentuk glukosa dan oksigen.

Ketika seseorang berbicara tanpa henti tanpa substansi—fenomena yang mirip dengan logorea—otak mengalami pemborosan energi tanpa hasil kognitif berarti bagi pendengar.

Rentetan kata tak bermakna justru memicu kelelahan mental (cognitive fatigue) pada audiens. Otak pendengar dipaksa menyaring informasi sampah, yang lambat laun menurunkan ketajaman berpikir kritis mereka.

Dari lensa psikologi, ledakan ungkapan tak bernilai ini berakar dari kecemasan eksistensial dan narsisme digital.

Banyak motivator, penceramah, dan pembuat konten terjebak dalam illusion of competence (ilusi berkompetensi).

Mereka merasa bahwa semakin banyak dan keras mereka berbicara, semakin pintar dan berwibawa mereka terlihat di mata publik.

Di panggung seminar dan media sosial, kata-kata indah yang superfisial digunakan sebagai topeng psikologis. Tujuannya untuk menyembunyikan kedangkalan berpikir.

Publik disuguhi kepuasan emosional sesaat lewat retorika yang membakar semangat. Namun, api itu padam seketika saat acara usai karena tidak menyisakan substansi nyata.

Jika ditinjau dari teori komunikasi massa, fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “polusi informasi” (information pollution).

Media sosial bertindak sebagai alat amplifikasi yang melipatgandakan suara-suara bising ini tanpa saringan.

Algoritma platform digital lebih menyukai kontroversi dan durasi tontonan daripada kedalaman isi. Akibatnya, forum dakwah dan seminar motivasi bergeser fungsi.

Mereka berubah dari yang semula bertujuan menyadarkan umat menjadi sekadar industri hiburan penjerat atensi.

Ketika komunikasi massa kehilangan fungsinya sebagai pencerah, publik kehilangan kompas kebenaran. Pesan yang sampai bukan lagi hikmah, melainkan jargon kosong penyumbat logika.

Dalam khazanah Islam, menjaga lisan adalah pilar utama keimanan. Rasulullah SAW menegaskan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Islam memandang kata-kata sebagai amanah yang memiliki bobot spiritual dan konsekuensi eskatologis yang berat.

Konsep khairul kalam ma qalla wa dalla—sebaik-baik perkataan adalah yang singkat dan padat—sangat sejalan dengan kritik Al-Hataiya.

Ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam berucap. Mereka memproduksi sedikit kata namun memiliki daya ubah yang melintasi zaman.

Kelimpahan ucapan tak bermakna di mimbar-mimbar hari ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap substansi dakwah. Dakwah seharusnya membawa transformasi jiwa, bukan sekadar riuh tepuk tangan.

Investigasi jurnalistik terhadap ekosistem ini membongkar fakta yang ironis: ada motif ekonomi dan industri di balik produksi kata-kata kosong ini.

Di balik panggung seminar berbiaya mahal dan konten ceramah viral, terdapat desain monetisasi yang rapi.

Retorika sengaja dirancang bukan untuk mencerdaskan. Justru melainkan untuk menjaga audiens agar tetap “candu” terhadap figur sang pembicara.

Ini adalah lingkaran setan kapitalisasi kata. Publik dibuat terbuai oleh ilusi motivasi agar mereka terus membeli tiket seminar atau menonton video berikutnya.

Sementara itu, masalah nyata dalam kehidupan mereka tidak pernah selesai secara struktural.

Pada akhirnya, sejarah mencatat bahwa perubahan besar dunia tidak pernah dilahirkan dari gemuruh retorika yang kosong. Perubahan lahir dari kedalaman gagasan yang dirumuskan secara matang.

Peringatan Al-Hataiya adalah proposal mutakhir untuk menyelamatkan akal sehat kolektif kita dari kepungan polusi informasi.

Berpikir cerdas sebelum angkat bicara bukan lagi sekadar pilihan etika. Melainkan sebuah pertahanan diri yang krusial di era digital.

Kita harus berani mengerem produksi kata-kata yang tidak membawa kontribusi nyata bagi kesadaran publik. Mari kembali pada khitah tutur kata yang sejati: ringkas, bertenaga, dan menghujam sanubari.

Terkait urgensi menjaga lisan ini, filsuf besar Yunani kuno, Plato, meninggalkan sebuah warisan kebijaksanaan yang sangat relevan bagi peradaban modern:

“Orang bijak berbicara karena mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan; orang bodoh berbicara karena mereka harus mengatakan sesuatu.” ***

——————–

*)Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H. adalah seorang jurnalis investigasi profesional, penulis buku-buku jurnalistik, serta instruktur jurnalistik nasional. Mantan wartawan profesional Majalah FORUM Keadilan Jakarta ini kini menjabat sebagai Direktur Utama Pekanbaru Journalist Center (PJC), sebuah lembaga pendidikan yang aktif mencetak generasi pers berintegritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *