Example 728x250
Opini

The Veteran Effect, Ketika Para Senior Selalu Menang di Garis Finis Kehidupan

65
×

The Veteran Effect, Ketika Para Senior Selalu Menang di Garis Finis Kehidupan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Dunia kita, hari ini. Tampaknya, masih mendewakan kedigdayaan usia muda. Energi yang meluap, kecepatan berpikir. Serta kekuatan fisik, diagungkan sebagai modal tunggal untuk merengkuh kesuksesan.

Namun, realitas di lapangan menyajikan anomali memikat. Di berbagai lini kehidupan yang kompetitif, justru para “pemain veteran” usia 60 plus ini, terbukti mampu kembali berkarya. Lantas, mencetak prestasi yang luar biasa gemilang.

Fenomena ini mulai terlihat di dunia akademik. Ketika seorang senior berusia menjelang 63 tahun memutuskan kembali ke bangku kuliah menempuh program doktor (S3) misalnya.

Sang Veteran tidak sekadar membawa tumpukan buku. Tetapi sudah siap memikul satu bagasi penuh pengalaman realitas hidup.

Mahasiswa muda yang meniti jalur linear dari S1 langsung ke S3 sering kali gagap menghadapi dinamika problematik riil di lapangan.

Sebaliknya, sang veteran—layaknya potret Endiah Puji Hastuti yang berhasil menempuh program Doktor Rekayasa Nuklir ITB di usia 62 tahun—berbekal asam garam kehidupan mampu membedah teori rumit. Dengan pisau analisis yang jauh lebih tajam dan solutif.

Dalam arena olahraga global, fenomena superioritas ini bahkan lebih benderang lagi. Tengok saja bagaimana panggung tertinggi Piala Dunia 2026 justru menjadi saksi sejarah runtuhnya dominasi arsitek lapangan hijau muda oleh tangan dingin seorang pelatih veteran.

Dick Advocaat, juru taktik kawakan asal Belanda. Di usia 78 tahun 260 hari, sang pelatih legendaris mencetak sejarah emas sebagai pelatih tertua sepanjang sejarah Piala Dunia. Saat si “Gaek” ini, memimpin tim nasional Curaçao bertanding di fase penyisihan grup.

Meski langkah Curaçao sebagai tim debutan harus terhenti di babak penyisihan grup setelah menghadapi raksasa seperti Jerman.

Tetapi, racikan strategi Advocaat berhasil membawa negara pulau terkecil tersebut menembus putaran final. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.

Taktik jitu sang pelatih tidak lagi sekadar urusan fisik. Lebih dari itu, merupakan kalkulasi psikologis matang yang meruntuhkan ego barisan pemain muda.

Secara biologis, alam sebenarnya telah memberikan cetak biru yang serupa bagi fenomena ini.

Dalam dunia botani, menanam bibit tanaman yang berusia lebih tua—seperti pada kelapa sawit atau pisang—justru menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh.

Kemampuan adaptasi tanah serta daya tahan terhadap penyakit. Intinya, jauh lebih tangguh dibanding bibit yang terlalu muda.

Pada manusia, penuaan tidak melulu soal grafik penurunan fungsi fisik. Neurosains membuktikan adanya fenomena neuroplasticity dan kristalisasi kecerdasan (crystallized intelligence).

Kecerdasan jenis ini terakumulasi dari pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman bertahun-tahun. Otak lansia yang tetap aktif mampu melihat pola (pattern recognition) secara instan.

Sebuah skill yang membutuhkan waktu lama. Bagi anak muda butuh proses mempelajarinya. Tentu saja, melalui metode trial and error.

Ditinjau dari sisi psikologis dan motivasional, para veteran ini ternyata, memiliki keunggulan kompetitif yang tidak terbeli uang: regulasi emosi yang sangat stabil.

Mereka tidak lagi dikejar ambisi pembuktian ego. Plus kecemasan eksistensial khas anak muda.

Motivasi mereka telah bergeser. Semula sekadar mencari pengakuan (achievement). Kini, menjadi upaya meninggalkan warisan makna. Demi generasi penerus (legacy).

Tak dinyana, ternyata, ketenangan batin inilah yang membuat keputusan taktis mereka minim risiko kegagalan dan selalu terukur.

Perspektif mulia ini selaras dengan nilai-nilai Islam. Al-Qur’an dan Hadis memandang usia tua bukan sebagai masa senjakala kelam yang tidak berdaya, melainkan fase puncak kematangan spiritual dan intelektual.

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat pukul tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku…'” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Fase setelah usia tersebut adalah waktu memanen kearifan untuk disumbangkan kembali kepada umat.

Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadis riwayat At–Tirmidzi mengenai siapa manusia terbaik:

“Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.”

Islam memuliakan uban dan usia senja. Keduanya dinilai sebagai cahaya spiritualitas yang membimbing tindakan. Agar selalu tepat sasaran.

Pada akhirnya, kejayaan para veteran ini membuktikan, usia hanyalah deretan angka. Sedangkan kualitas karya ditentukan kedalaman jiwa.

Mereka kembali berkarya bukan untuk memulai dari nol. Justru terpanggil menyelesaikan apa yang telah mereka pelajari sepanjang hayat.

Sebagaimana ungkapan bijak dari filsuf dan penyair besar dunia dari Amerika, Henry Wadsworth Longfellow:

“Age is opportunity no less than youth itself, though in another dress, and as the evening twilight fades away the sky is filled with stars, invisible by day.”

(Usia tua adalah peluang yang tidak kalah indahnya dari masa muda, walau dalam pakaian yang berbeda; dan saat senja memudar, langit justru dipenuhi bintang-bintang yang tak terlihat di siang hari). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *