Example 728x250
Opini

Institusi Pendidikan (Juga) Memproduk Lulusan Bermental Korup

39
×

Institusi Pendidikan (Juga) Memproduk Lulusan Bermental Korup

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Tidak ada perubahan keadaan yang bisa memperbaiki cacat karakter,” tulis Filsuf Amerika, Ralph Waldo Emerson.

Kutipan filosofis ini menampar sebuah ilusi besar yang lama dipelihara oleh masyarakat modern kita.

Banyak orang salah paham dan terjebak dalam mitos kenyamanan eksternal. Mereka mengira, dengan bergesernya nasib, berpindahnya strata sosial, atau bertambahnya angka di rekening bank, maka cacat karakter otomatis akan luntur.

Ini adalah kekeliruan berpikir yang akut. Faktanya, mau nasib atau lingkungan Anda berubah setinggi langit, jika sifat dasar Anda memang bermasalah, Anda akan tetap menjadi manusia yang bermasalah.

Kelemahan logika ini paling nyata terlihat pada kebijakan remunerasi dan peningkatan fasilitas pejabat negara. Bertahun-tahun kita disuguhi narasi bahwa menaikkan gaji pejabat adalah solusi mutlak untuk menyembuhkan penyakit korupsi.

Teori itu runtuh berkeping-keping di lapangan. Alih-alih membuat pejabat menjadi puas dan bersih, pundi-pundi uang yang diperbesar itu justru kerap menjadi bahan bakar baru bagi keserakahan yang tidak bertepi.

Karakter bukanlah sebuah kosmetik yang bisa diganti hanya dengan mengubah dekorasi luar. So, menunggu peningkatan ekonomi luar datang untuk mengubah tabiat buruk kita adalah sebuah kesia-siaan yang naif.

Sebab, secara biologis, struktur otak manusia memang memiliki plastisitas (neuroplastisitas). Otak bisa merespons dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang penuh kemewahan.

Namun, sirkuit saraf yang mengendalikan integritas, kejujuran, dan empati hanya akan terbentuk melalui latihan mental yang konsisten. Gaji besar tanpa adanya komitmen internal hanya melahirkan kebiasaan lama dalam kemasan baru yang lebih mewah.

Dari kacamata psikologi, fenomena ini semakin benderang melalui konsep kepribadian inti. Perubahan eksternal, seperti kekayaan atau jabatan baru, sebenarnya hanyalah sebuah alat pembesar (magnifying glass).

Keadaan tidak pernah mengubah esensi manusia; ia hanya membongkar apa yang selama ini tersembunyi. Ketika seseorang yang dasarnya serakah mendapatkan gaji besar, nominal itu tidak membuatnya puas. Justru sebaliknya: memperbesar skala keserakahannya.

Lihatlah realitas pahit yang terjadi pada kasus korupsi pengelolaan kuota haji yang menjerat mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Secara finansial dan fasilitas, seorang menteri sudah lebih dari sekadar berkecukupan.

Namun, proses persidangan yang mengungkap dugaan kerugian negara menembus angka Rp622 miliar menunjukkan sebuah ironi yang mendalam. Kementerian yang seharusnya menjadi benteng moralitas justru bobol karena kegagalan internal pemangkunya.

Kasus ini memperpanjang daftar hitam menteri agama terdahulu, seperti Suryadharma Ali, yang juga terjerat kasus serupa.

Fenomena serupa juga menjalar ke berbagai lembaga tinggi negara lainnya yang terkenal memiliki tunjangan selangit. Termasuk jajaran di Badan Gizi Nasional (BGN) hingga sektor keuangan. Gaji tinggi dan fasilitas premium terbukti gagal total menjadi penjinak nafsu rakus para pemburu rente.

Ironi terbesar bangsa ini memuncak ketika kita menyaksikan institusi pemberantas korupsi yang terus ditambah dan diperkuat. Namun perilaku korup justru semakin merajalela. Kita mendirikan berbagai komisi dan satuan tugas. Tetapi kejahatan ini justru berevolusi secara masif.

Lebih mengerikan lagi, racun korupsi kini justru merangsek ke dalam jantung institusi yang bertugas menyembuhkannya. Ketika aparat penegak hukum, jaksa, hingga oknum internal di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terbukti ikut terseret dalam skandal pemerasan dan suap.

Salah satu kasus adalah—kebocoran informasi penyidikan oleh staf administrasi demi memeras kepala daerah. Sebuah realita, publik tengah disuguhi tontonan moral yang luluh lantak.

Bukankah ini adalah bukti paling telanjang dari sebuah cacat karakter? Pangkat, rompi penegak hukum, dan sumpah jabatan yang sakral tampaknya tidak berdaya ketika berhadapan dengan mentalitas yang memang sudah rusak sejak dalam pikiran.

Lantas, di mana posisi institusi pendidikan kita? Mengapa lembaga yang menjadi pabrik pencetak generasi masa depan ini gagal total membentuk pola karakter lulusan yang anti-korup?

Jawabannya benderang: karena pendidikan kita telah kehilangan rohnya. Sekolah dan universitas saat ini telah bergeser fungsi: dari tempat pembentukan moral menjadi sekadar pabrik komersial pencari kerja.

Kurikulum kita terlalu sibuk memacu kecerdasan kognitif, hafalan rumus, dan pencapaian angka-angka di atas kertas. Nilai kejujuran dikalahkan oleh tuntutan kelulusan. Integritas dikorbankan demi mengejar gengsi akreditasi.

Ketika proses belajar-mengajar diwarnai oleh kompromi-kompromi kecil—seperti menyontek massal yang dibiarkan, kebocoran soal yang ditutupi. Hingga komersialisasi kursi masuk sekolah—kita sebenarnya sedang meletakkan dasar karakter koruptif sejak usia dini.

Lembaga formal terlalu sibuk membangun dinding sekolah yang megah dan kurikulum yang rumit, namun melupakan esensi olah rasa. Pendidikan yang sekadar mengubah penampilan fisik atau status sosial anak didik tidak akan ada artinya.

Selama cara berpikir mereka yang korup dan cara memperlakukan hak orang lain masih ngawur, kita hanya sedang mencetak “penjahat berkerah putih” yang lebih canggih di masa depan.

Islam meletakkan dasar yang sangat tegas mengenai lingkaran perubahan ini. Di dalam AlQur’an, Surat Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Kata “diri mereka sendiri” (anfusihim) merujuk pada wilayah internal—jiwa, mental, dan karakter. Karakter dalam Islam dikenal sebagai akhlak, yang didefinisikan sebagai kondisi jiwa yang tertanam kuat.

Nabi Muhammad SAW diutus bukan untuk mengubah sistem politik atau struktur ekonomi terlebih dahulu, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Tanpa perbaikan qalbu (hati), segala bentuk kemakmuran lahiriah di mata Islam hanyalah sebuah istidraj—jebakan kenikmatan yang perlahan-lahan menghancurkan.

Sebagai jurnalis investigasi, saya sering menyaksikan bagaimana topeng-topeng keadaan ini runtuh di ruang sidang korupsi atau di balik jeruji besi.

Banyak tokoh yang dahulunya dipuja karena status sosialnya, ternyata memiliki cacat karakter yang mengerikan di balik jubah kekuasaannya.

Mereka salah fokus. Mereka mengira dengan menimbun harta, menikmati gaji besar, atau berlindung di balik ijazah mentereng, borok di dalam jiwa mereka bisa sembuh dengan sendirinya. Mereka lupa bahwa kemiskinan moral tidak akan pernah bisa diobati dengan kekayaan material.

Maka, berhentilah menyalahkan keadaan atas keburukan sifat kita. Berhentilah berharap bahwa kenaikan materi, pangkat baru, atau gelar akademis yang lebih berkelas akan otomatis menjadikan kita manusia yang lebih jujur.

Perubahan karakter adalah sebuah kerja sunyi di dalam ruang batin. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui kelemahan diri dan keberanian untuk membedah borok ego kita sendiri.

Sepanjang komitmen internal itu tidak pernah lahir, kita hanya akan menjadi pengembara yang membawa beban kebusukan yang sama, ke mana pun kita pergi.

Sebab, seperti yang pernah diingatkan oleh filsuf dan pemikir besar kuno, Heraclitus:

Karakter seseorang adalah takdirnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *