Example 728x250
Opini

Ketika Professor Takluk pada Seorang Pendayung Sampan

102
×

Ketika Professor Takluk pada Seorang Pendayung Sampan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Alkisah, seorang profesor fisika menaiki sampan yang didayung anak tanpa sekolah. Di tengah sungai dalam, sang profesor menggurui, “Apakah Anda tahu kenapa sampan ini bisa mengapung?” Si anak menggeleng. Profesor pun memberi kuliah gratis tentang hukum fisika mengapung.

Jemu diceramahi, si anak balik bertanya, “Bapak bisa berenang?” Profesor menggeleng. “Masalahnya, perahu ini bocor,” kata si anak. Sampan itu karam, dan sang profesor tenggelam bersama tumpukan teorinya.

Amsal ini adalah tamparan keras bagi para intelektual salon. Secara psikologis, profesor tersebut adalah korban intellectual hubris—kesombongan intelektual akut. Gelar akademik menciptakan delusi superioritas yang menyumbat fungsi kognitifnya untuk membaca realitas ancaman instan.

Dia terlalu sibuk mengagumi kecerdasannya sendiri hingga buta terhadap rembesan air yang mulai menenggelamkan kakinya.

Sebaliknya, anak perahu itu memanifestasikan practical intelligence atau street smarts (kecerdasan jalanan). Psikologi fungsionalis menegaskan bahwa puncak tertinggi kecerdasan manusia adalah ketangkasan adaptasi untuk bertahan hidup (survival).

Di atas air yang dalam, Hukum Archimedes tidak bisa menyelamatkan nyawa; hanya otot yang tahu cara berenang yang menentukan hidup atau mati.

Dalam lanskap jurnalisme investigasi hari ini, “sindrom menara gading” ini tumbuh subur. Banyak jurnalis muda fasih berdebat tentang etika komunikasi di ruang ber-AC atau memuja metodologi akademis yang kaku.

Namun ironisnya, mereka abai bahwa perahu profesi dan keselamatan diri mereka sedang bocor dihantam represi nyata di lapangan.

Jurnalisme investigasi bukan ruang kuliah filsafat murni, melainkan pertempuran taktis di medan ranjau. Teori idealis tentang kebebasan pers mendadak lumpuh ketika moncong senjata atau somasi hukum sudah berada di depan dada.

Seorang jurnalis investigasi sejati tidak dinilai dari tebalnya buku yang ia kutip, melainkan dari kejelian psikologisnya membaca kebohongan narasumber, kecerdikan menyusup ke sarang mafia, dan ketangkasannya meloloskan diri dari bahaya.

Secara psikologis, mendewakan teori menciptakan illusion of control—ilusi palsu bahwa lapangan bisa dikendalikan secara normatif. Padahal, medan investigasi itu liar, kotor, dan acak.

Menghadapi koruptor licik atau mafia tanah tidak bisa diselesaikan dengan membacakan pasal undang-undang. Lapangan menuntut survival skill instan: mengamankan enkripsi data, menjinakkan informan labil, dan menghilang dari radar saat operasi bocor.

Tulisan ini tidak menafikan ilmu pengetahuan; teori tetap penting sebagai peta petunjuk arah. Namun, kompas secanggih apa pun menjadi rongsokan jika tangan kita lumpuh mengayuh dayung. Pengetahuan tanpa keterampilan aplikatif adalah kemandulan intelektual yang mematikan.

Kita harus mendobrak mentalitas jurnalisme: geser paradigma dari sekadar “mengetahui yang ideal” (knowing) menjadi “mampu mengeksekusi” (doing).

Mari kita bersihkan ruang redaksi dari jurnalis yang pandai menggurui namun lututnya gemetar saat disuruh memegang kamera investigasi di wilayah konflik.

Kita tidak butuh barisan pengamat di balik meja. Kita butuh jurnalis lapangan yang siap bertarung, tahu cara menambal kebocoran sekecil apa pun, dan memiliki mental baja yang tidak tenggelam oleh beratnya ego intelektual sendiri.

Kehidupan dan dunia investigasi adalah sungai yang berarus deras. Teori mungkin menjelaskan mengapa kita bisa mengapung, namun hanya keterampilan praktis dan aksi nyatalah yang membawa kita menembus badai hingga tiba di seberang dengan selamat.

Sejalan dengan kebenaran mutlak ini, mari camkan petuah keras dari Johann Wolfgang von Goethe:

Mengetahui saja tidak cukup; kita harus menerapkannya. Keinginan saja tidak cukup; kita harus melakukannya.”

Forumjurnalisinvestigasi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *