Example 728x250
Opini

Ketika Industri Validasi Membunuh Jati Diri Kita

57
×

Ketika Industri Validasi Membunuh Jati Diri Kita

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Emily Dickinson pernah menulis dengan indah: “Jika saya bisa mencegah satu hati hancur atau membantu seekor burung robin kembali ke sarangnya, hidup saya tidak akan sia-sia”.

Kalimat puitis itu, hari ini terasa seperti tamparan keras. Di era digital, kepedulian justru menjadi barang mewah yang kian langka.

Sebagai jurnalis investigasi, kita sering kali turun ke lapangan bukan sekadar memburu data, melainkan menyaksikan langsung keretakan sosial.

Mengapa manusia modern kian abai pada jeritan sesamanya? Di manakah hilangnya jati diri kita sebagai makhluk yang peduli?

Dari kacamata nilai Islam, kemenipisan kepedulian ini adalah alarm spiritual yang berbahaya. Islam mengajarkan bahwa jalinan persaudaraan antar-manusia ibarat satu tubuh.

Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakannya. Ketika ego mengalahkan empati, kita sedang mengalami krisis iman. Menjadi apatis berarti meruntuhkan pilar kemanusiaan yang digariskan agama.

Secara biologi, fenomena ini dapat ditelusuri melalui mekanisme bertahan hidup. Otak manusia secara evolusioner dirancang untuk merespons ancaman terdekat demi kelangsungan hidup personal dan kelompok kecilnya.

Namun, di era modern, bombardir informasi dan tekanan ekonomi memaksa sistem saraf kita masuk ke mode bertahan hidup yang egois. Energi biologis untuk berempati terkuras habis demi mengamankan eksistensi diri sendiri.

Secara psikologis, kondisinya kian diperparah oleh pergeseran orientasi nilai. Manusia modern cenderung keluar dari jati dirinya sebagai makhluk komunal demi mengejar validasi semu di media sosial. Terjadi distorsi eksistensial.

Kita lebih sibuk memoles citra peduli lewat layar gawai daripada mengulurkan tangan secara nyata di dunia riil. Kepedulian yang tulus terkubur di bawah tumpukan klik, suka, dan pujian maya.

Jika dibedah lebih dalam dari sisi investigasi sosial, krisis empati ini bukan sekadar gejala moral individu, melainkan dampak nyata dari patologi struktural yang sistemik.

Ruang-ruang kota kita dirancang semakin mengisolasi, interaksi komunal digantikan oleh transaksi digital, dan tekanan ekonomi yang tinggi memaksa masyarakat hidup dalam mode defensif.

Investigasi sosial juga menyingkap adanya fenomena komodifikasi empati melalui attention economy (ekonomi perhatian). Penderitaan sesama kerap dijadikan konten demi meraih keuntungan materi atau popularitas algoritma.

Akibatnya, modal sosial dan kepekaan kolektif kita sebagai bangsa perlahan-lahan terkikis oleh sistem yang mengomersialkan rasa iba.

Di sinilah jurnalisme investigasi harus mengambil peran sentral. Tugas utama jurnalis bukan sekadar melaporkan peristiwa permukaan, melainkan membongkar akar masalah struktural yang menyumbat urat nadi kepedulian publik tersebut.

Investigasi yang tajam bertindak seperti pisau bedah. Ia menyingkap tabir ketidakadilan, korupsi, dan penindasan yang sistematis agar hati masyarakat yang mulai membeku kembali terketuk.

Kita harus menolak menjadi pengamat yang pasif. Mengembalikan kepedulian bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban etis yang mutlak. Ketika kita berhenti memedulikan sesama, pada saat itulah kita kehilangan separuh dari kemanusiaan kita.

Sebab, seperti yang pernah diingatkan oleh Albert Einstein:

Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami; bukan karena orang-orang yang berbuat jahat, melainkan karena orang-orang yang berdiri menyaksikan dan tidak melakukan apa-apa.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *