Example 728x250
Opini

Berbicaralah, jika Suaramu Lebih Indah dari Keheningan….

56
×

Berbicaralah, jika Suaramu Lebih Indah dari Keheningan….

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Sebuah peribahasa Brasil mengingatkan kita dengan sangat getir:

Orang yang membakarmu dengan kata-kata dapat menenggelamkanmu dengan keheningan.”

Untaian kalimat ini membawa sebuah kebenaran psikologis yang mendalam tentang rahasia hubungan antarmanusia. Kita sering bersiap menghadapi badai berupa ucapan kasar, cacian, atau kritik yang tajam.

Namun, kita kerap kali lumpuh dan tidak berdaya ketika menghadapi bentuk luka yang jauh lebih senyap. Kenyataannya, tidak semua luka di dunia ini datang dari ucapan yang kasar. Sebagian luka yang paling dalam justru lahir dari keheningan.

Ada orang yang dahulu begitu banyak berbicara dengan kita, mengisi hari-hari kita dengan perhatian dan kehangatan. Mereka adalah manusia yang kehadirannya laksana matahari, mencairkan kebekuan dan membasuh sepi. Lalu suatu hari, tanpa ada badai yang terlihat, mereka memilih diam.

Tidak ada penjelasan, tidak ada perpisahan yang jelas, hanya jarak dan keheningan yang perlahan tumbuh di antara dua hati. Kita ditinggalkan dalam ruang hampa, menyaksikan bagaimana sebuah kedekatan mati perlahan tanpa upacara pemakaman yang layak.

Dari sudut pandang psikologi modern, keheningan yang disengaja untuk menghukum atau meninggalkan orang lain tanpa kepastian adalah bentuk kekerasan emosional yang sangat kejam.

Fenomena ini dikenal sebagai silent treatment. Dr. Kipling Williams, seorang profesor ilmu psikologi dari Purdue University yang telah meneliti pengucilan selama puluhan tahun, mengungkapkan fakta yang mengejutkan.

Ia menyatakan bahwa tindakan mendiamkan seseorang ternyata mengaktifkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik, yaitu anterior cingulate cortex.

Keheningan tanpa penjelasan memaksa korbannya mengalami penolakan yang membingungkan, membuat mereka mengemis kejelasan dalam labirin emosinya sendiri.

Diam di sini bukan lagi sekadar absennya suara, melainkan sebuah senjata yang mengirimkan pesan bahwa keberadaan kita tidak lagi berharga.

Dunia spiritual Islam juga memandang pentingnya merawat komunikasi dan melarang keras tindakan memutus hubungan emosional secara sepihak.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10:

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Ayat ini dengan indah menegaskan bahwa ketika terjadi keretakan, langkah yang harus diambil adalah islah—menyambung kembali dan mendamaikan—bukan justru membangun tembok keheningan yang mengasingkan jiwa orang lain.

Lebih spesifik lagi, Rasulullah SAW melarang tindakan mendiamkan sesama manusia tanpa penyelesaian yang jelas. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Ketika keduanya bertemu, yang ini berpaling dan yang itu pun berpaling. Dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”

Hadis ini menjadi teguran keras bagi siapa saja yang memilih jalan diam yang egois, mengabaikan hak emosional sesamanya, dan membiarkan sebuah ikatan mati dalam ketidakpastian.

Tokoh dunia dan pejuang kemanusiaan, Martin Luther King Jr., pernah menyampaikan sebuah kutipan abadi yang mengiris hati:

Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat kata-kata musuh kita, tetapi keheningan dari teman-teman kita.”

Keheningan dari orang yang pernah menaruh kehangatan di hati kita terasa jauh lebih mematikan daripada peluru makian dari seorang lawan.

Sebab, di dalam keheningan orang terdekat, ada rasa percaya yang patah dan ada nilai kemanusiaan yang mendadak runtuh.

Sebagai manusia, konflik dan perbedaan ego adalah hal yang wajar dalam dinamika sosial. Namun, menutup pintu komunikasi secara sepihak sama saja dengan mengubur sebuah jiwa hidup-hidup.

Kejujuran yang pahit jauh lebih terhormat daripada keheningan yang membingungkan. Jika sebuah kedekatan memang harus usai, selesaikanlah dengan penuh kehormatan.

Berikan penjelasan dan katakan perpisahan dengan jelas, agar tidak ada hati yang tertinggal dalam ketidakpastian tanpa ujung.

Menenggelamkan seseorang dalam keheningan mungkin terasa seperti kemenangan bagi ego yang angkuh, namun itu adalah kekalahan terbesar bagi kemanusiaan kita.

Jangan biarkan jarak tumbuh di antara dua hati hanya karena kita terlalu pengecut untuk berbicara jujur. Sebab, luka akibat kata-kata yang tajam mungkin bisa dibasuh oleh waktu dan permintaan maaf, tetapi luka yang lahir dari keheningan sering kali meninggalkan lubang hampa yang abadi di dalam dada.

Sebagai penutup, mari kita renungkan untaian kalimat mendalam dari penyair besar Kahlil Gibran yang pernah menulis:

Jika keheninganmu tidak mampu membuat mereka mengerti, maka kata-katamu pun tidak akan pernah bisa membuat mereka menghargai.

Kalimat ini menjadi tamparan sekaligus cermin bagi kita semua; bahwa komunikasi yang jujur adalah jembatan tertinggi kemanusiaan kita, dan memilih untuk menutupnya dengan sengaja hanya akan menyisakan luka yang tak kasat mata namun abadi di dalam dada.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *