Example 728x250
MOTIVASI

ORANG LAPAR YANG MENAKLUKKAN DUNIA

39
×

ORANG LAPAR YANG MENAKLUKKAN DUNIA

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Beri pengalaman lapar bagi seorang pria, maka dia akan menaklukkan dunia.” Kalimat filosofis ini bukan sekadar untaian kata indah. Bagi saya, ini adalah kompas hidup.

Empat puluh satu tahun lalu, tepatnya tahun 1985, Pekanbaru menjadi saksi buas sekaligus bisu. Sebagai mahasiswa yang bermimpi menjadi jurnalis, lapar adalah kawan akrab. Seringkali, tidak ada satu pun benda yang bisa dikunyah.

Bahkan di bulan puasa, penderitaan itu mencapai puncaknya. Saya pernah melewati sepuluh malam berturut-turut tanpa sahur. Tubuh ini dipaksa bertahan hanya dengan sisa energi hari sebelumnya.

Siangnya, di bawah terik matahari Sumatra yang membakar, saya harus memeras keringat menjadi kuli bangunan dalam keadaan berpuasa. Ketika beduk magrib menjelang, modal saya hanya kaki yang melangkah mencari masjid demi seteguk takjil gratis.

Ada satu senja yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Saat kaki melangkah tergesa menuju masjid, langit Pekanbaru tumpah. Hujan lebat turun mendadak.

Kala itu, waktu berbuka telah tiba, namun jarak ke masjid masih jauh. Saya terpaksa berteduh di bawah emperan toko warga. Perut melilit, tenggorokan kering kerontang.

Dalam kepasrahan yang teramat sangat, saya menadahkan kedua telapak tangan ke langit. Saya menangkap tetesan air hujan yang jatuh dari ujung atap tempat saya berteduh. Air hujan itulah yang membasahi kerongkongan saya malam itu. Itulah menu berbuka puasa termewah yang pernah saya miliki.

Namun, sejarah mencatat bahwa lapar adalah bahan bakar terbaik bagi mental petarung. Lihatlah Manny Pacquiao. Petinju legendaris Filipina itu naik ring pertama kali bukan demi sabuk juara, melainkan demi sesuap nasi. Lapar melahirkan raksasa.

Dalam khazanah Islam, lapar bahkan menjadi pakaian para pejuang terbaik. “Wartawan” zaman Rasulullah, Abu Hurairah r.a., perawi yang paling banyak merekam dan menyampaikan hadis, sering tidak makan hingga dua hari. Suatu ketika, ia bahkan jatuh pingsan akibat kelaparan saat sedang berbicara di depan Rasulullah.

Kepedihan itu kian menyayat hati karena ternyata saat itu Rasulullah SAW sendiri sudah tiga hari tidak kemasukan makanan. Dari perut-perut lapar para kekasih Allah inilah, peradaban Islam yang agung dan menaklukkan dunia itu lahir.

Secara biologis, rasa lapar memicu mekanisme bertahan hidup yang luar biasa. Saat lambung kosong, tubuh melepaskan hormon ghrelin dan kortisol dalam dosis terukur. Bukannya melemah, dalam kondisi adaptif, hormon ini justru menajamkan fokus dan meningkatkan kewaspadaan otak.

Secara psikologis, kelaparan yang dikelola dengan baik akan meruntuhkan mentalitas korban (victim mentality). Lapar memaksa seseorang keluar dari zona nyaman. Ia mengubah rasa kasihan pada diri sendiri menjadi ambisi yang menyala-nyala.

Dalam dunia jurnalisme investigasi, ketajaman mental ini adalah segalanya. Lapar mengajarkan saya untuk tidak mudah puas, jeli melihat ketimpangan, dan memiliki daya tahan tinggi saat mengejar kebenaran di lapangan.

Di sinilah letak kejeniusan syariat Islam. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan adalah institusi formal untuk merekayasa “rasa lapar” tersebut. Islam tidak ingin umatnya manja.

Puasa Ramadhan adalah latihan spiritual dan mental yang terukur. Melalui puasa, orang kaya dipaksa merasakan penderitaan orang miskin, sementara orang miskin dididik untuk melipatgandakan daya lentur (resilience) mereka.

Secara motivasional, puasa mengubah energi biologis yang primitif menjadi energi spiritual yang tinggi. Lapar di bulan Ramadhan mengajarkan kontrol diri, integritas saat tak ada yang melihat, dan kegigihan tanpa batas. Air hujan yang saya minum tahun 1985 adalah simbol ketundukan sekaligus ketangguhan.

Kini, di usia 62 tahun, saya menengok ke belakang dengan rasa syukur yang mendalam. Tanpa benturan kelaparan, kisah Abu Hurairah, dan tetesan air hujan di tahun 1985 itu, mungkin tidak akan pernah ada jurnalis bernama Wahyudi El Panggabean hari ini.

Lapar bukan lagi musuh yang harus ditakuti. Ia adalah guru terbaik yang menempa mental, membersihkan biologis, dan mendekatkan diri pada Ilahi. Ramadhan adalah madrasah tahunan untuk melahirkan para penakluk dunia yang baru.

Makanlah saat kamu lapar, dan berhentilah sebelum kamu kenyang. Biasakan dirimu dengan hidup susah, karena kesenangan itu tidak akan bertahan selamanya.”
Umar bin Khattab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *