Example 728x250
MOTIVASI

Mengapa Kita Enggan Curhat kepada Orang yang Lebih Baik dari Kita?

47
×

Mengapa Kita Enggan Curhat kepada Orang yang Lebih Baik dari Kita?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Filsuf Perancis, Albert Camus pernah melontarkan sebuah premis yang tajam:

Kita jarang curhat kepada orang yang lebih baik dari kita.”

Mengapa fenomena psikologis ini terjadi? Kalimat ini sebenarnya menyingkap tabir terdalam tentang ego manusia, rasa rendah diri (inferiority), dan kecenderungan untuk menghindari rasa malu.

Ketika dihadapkan pada seseorang yang kualitas moral atau intelektualnya jauh di atas kita, secara naluriah muncul rasa segan.

Ego Manusia dan Rasa Rendah Diri

Dari sudut pandang psikologi, manusia pada hakikatnya ingin dipahami dan divalidasi. Saat kita berkeluh kesah, kita mengharapkan empati, bukan penghakiman.

Jika kita bercerita kepada orang yang lebih baik, ada ketakutan bawah sadar bahwa kelemahan atau kesalahan kita akan terlihat sangat mencolok. Kita takut dinilai bodoh, lemah, atau kekanak-kanakan.

Ego kita lebih nyaman berada di dekat orang yang setara atau di bawah kita, tempat kita bisa menjadi “pemeran utama” tanpa takut dihakimi.

Perspektif Spiritual

Dalam khazanah Islam, curhat atau berkeluh kesah disebut sebagai syakwa. Al-Qur’an dan hadis mengajarkan sebuah paradigma yang sangat agung.

Ketika seorang hamba diuji dengan kesulitan, Islam mengarahkan agar curhat pertama dan utama ditujukan hanya kepada Allah SWT.

Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 86, di mana Nabi Ya’qub AS berkata: “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Ini adalah bukti bahwa mengadu kepada Allah adalah bentuk ketundukan tertinggi. Berbeda dengan manusia yang mungkin merasa terbebani, lelah, atau membocorkan rahasia, Allah Maha Mendengar dan tidak pernah bosan mendengarkan hamba-Nya.

Lantas, bagaimana dengan sesama manusia? Apakah kita diharamkan untuk bercerita kepada orang lain? Islam memiliki prinsip musyawarah seperti yang diperintahkan dalam Surat Ali ‘Imran ayat 159.

Namun, ada etika yang ketat. Jika kita butuh teman bicara, kita harus memilih orang yang tepat—yakni mereka yang berilmu, amanah, dan mampu memberikan solusi, bukan sekadar pendengar yang menghakimi.

Kedewasaan Jiwa

Ungkapan Camus sejalan dengan prinsip ini. Kita enggan bercerita kepada orang yang lebih baik karena kita belum siap menerima kebenaran atau nasihat yang mungkin akan menelanjangi kesalahan kita.

Padahal, jika kita memiliki kerendahan hati (tawadhu), justru kepada sosok yang lebih baiklah kita harus meminta panduan.

Kesimpulannya, curhat bukanlah sekadar meluapkan emosi, melainkan proses seleksi rasional dan spiritual.

Dalam dimensi spiritual, Allah adalah tujuan pertama dan utama dalam mengadukan segala gundah gulana. Dalam dimensi sosial, manusia harus bijak memilih tempat bercerita.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *