JAKARTA, jurnalisinvestigasi.com – Keputusan kilat Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru pada Senin (14/9) ternyata gagal memicu euforia di lantai bursa. Pelaku pasar keuangan justru merespons dingin rotasi mendadak di tubuh Kabinet Merah Putih ini. Sinyalemen kelesuan ini tercermin dari pergerakan pasar saham dan obligasi yang cenderung stagnan tanpa lonjakan sentimen positif yang signifikan.
Keengganan pasar untuk bergerak agresif dipicu oleh kuatnya faktor eksternal global yang tengah menyandera ekonomi domestik. Para investor saat ini jauh lebih fokus mencermati lonjakan harga minyak dunia, melambungnya yield obligasi Amerika Serikat (US Treasury), serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Gejolak makro global tersebut dinilai memiliki dampak riil yang jauh lebih masif bagi portofolio investasi ketimbang sekadar perubahan nama di kursi nomor satu Lapangan Banteng.
Di sisi lain, figur Suahasil Nazara yang dipilih sebagai pengganti dinilai sebagai langkah cari aman oleh pihak Istana. Sebagai mantan Wakil Menteri Keuangan dengan rekam jejak teknokratis yang panjang, sosoknya dianggap tidak akan membawa kejutan kebijakan atau perombakan radikal. Pasar membaca penunjukan ini murni sebagai upaya stabilitas birokrasi, bukan sebuah terobosan fiskal baru yang mampu mengubah arah angin perekonomian secara drastis.
Kondisi psikologis pasar juga dibayangi oleh kejenuhan akibat terlalu seringnya pergantian nakhoda fiskal di era pemerintahan baru. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, posisi Menteri Keuangan telah berganti sebanyak tiga kali, memicu kekhawatiran mengenai konsistensi tata kelola anggaran jangka panjang. Alih-alih optimistis, para pemodal kini memilih sikap wait and see seraya menanti pembuktian Suahasil dalam mengawal APBN di tengah kepungan risiko politik domestik dan tekanan eksternal.











