Example 728x250
Ragam

Dilema di Persimpangan Kekuasaan: Menakar Kegamangan Prabowo Bersama Gibran

8
×

Dilema di Persimpangan Kekuasaan: Menakar Kegamangan Prabowo Bersama Gibran

Sebarkan artikel ini

Wahyudi El Panggabean

Presiden Prabowo Subianto kerap dinilai menunjukkan sikap gamang dalam mempertahankan kemitraan politiknya dengan Gibran Rakabuming Raka.

Sebagai politisi senior dengan latar belakang militer yang tegas, keraguan implisit ini menarik untuk diulas melalui tiga lensa fundamental: politik, biologis, dan psikologis.

Secara politik, Prabowo berada di pusaran kalkulasi elektoral dan legitimasi. Gibran adalah tiket emas menuju basis massa loyalis Jokowi, namun sekaligus menjadi beban liabilitas.

Isu dinasti politik dan ketergantungan pada bayang-bayang rezim lama menciptakan dilema bagi Prabowo yang ingin menegaskan otonomi kepemimpinannya tanpa harus memicu keretakan koalisi.

Dari sudut pandang biologis, terdapat jurang generasi yang kentara. Perbedaan usia yang mencolok bukan sekadar angka. Tetapi representasi dari ritme biologis dan stamina yang berbeda dalam menghadapi tekanan tinggi negara.

Prabowo, di usia senjanya, dihadapkan pada realitas suksesi alamiah, di mana sang wakil muda siap mengambil alih kapan saja—sebuah dinamika yang secara evolusioner memicu naluri kewaspadaan tingkat tinggi.

Secara psikologis, ego seorang jenderal legendaris pasti bergejolak. Prabowo terbiasa memegang kendali penuh. Berpasangan dengan figur muda yang lekat dengan kontroversi digital dan persepsi “anak instan” menciptakan disonansi kognitif.

Ada kecemasan psikologis bahwa warisan kepemimpinannya (legacy) akan tereduksi menjadi sekadar jembatan bagi dinasti politik orang lain, bukan puncak pencapaian pribadinya.

Kegamangan ini adalah sinyal bahwa di balik kokohnya panggung kekuasaan, ada kompromi batin yang belum selesai. Menghadapi situasi ini, kita diingatkan pada pesan bijak dari filsuf Aristoteles:

Kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri.”

Bagi Prabowo, tantangan terbesarnya saat ini bukanlah menaklukkan lawan politik. Justru upaya berdamai dengan bayang-bayang mitranya sendiri. Demi masa depan bangsa.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *